SURABAYA - Ludruk merupakan kesenian khas Jawa Timur yang sudah ada sejak abad ke-12 di era Majapahit. Keberadan ludruk mencapai kejayaan di tahun 1980-1990. Setelah itu ludruk hingga kini nyaris tak tenar seperti di tahun-tahun kejayaannya.
Namun di Surabaya ada kampung ludruk yang masih eksis dengan melestarikan budaya dan keseniannya. Tepatnya di Manukan Wetan RW 1, grup ludruk Baru Jadi itu berada.
Sejak berdiri di tahun 1992 hingga saat ini, anggota ludruk tak hanya generasi tua. Namun ada anak muda yang secara turun temurun mewarisi budaya dan darah seni dari para orang tuanya.
Menurut pembina Ludruk Baru Jadi, nama Baru Jadi mempunyai makna agar menjadi semangat dalam melestarikan ludruk. Sehingga dipililah nama Baru Jadi. "Agar mereka tetap merasa baru dan tidak jumawa sehingga selalu semangat dalam melestarikan kesenian yang nyaris tidak ada generasinya ini," tutur Hendra kepada Radar Surabaya, Kamis (11/1).
Saat ditemui, para pemain ludruk tengah berlatih. Dengan beranggotakan 70 orang. Generasi tua ludruk yang juga salah satu pendiri ludruk telah berusia 62 tahun. Sedangkan yang paling muda duduk di tingkat SMP.
Para pemain ludruk berasal dari penduduk asli Manukan Wetan RW 1. Mereka juga kerap pentas, tak mudah bagi mereka untuk menyuguhkan penampilan ludruk karena seringnya bertemu dan latihan yang rutin digelar setiap minggunya.
"Tujuan kegiatan di warga kami menjaga dari gempuran budaya luar dan perkembangan zaman. Sehingga kami merasa perlu menjaga kelestarian budaya. Saat ini sudah generasi ketiga yang meneruskan kesenian ludruk ini," jelasnya.
Ludruk menyuguhkan kesenian drama yang dimainkan oleh sekelompok orang dengan diiringi musik. Biasanya, cerita yang diangkat dalam pertunjukan ludruk berhubungan dengan masalah sosial masyarakat dan kisah-kisah inspiratif.
"Kami juga kerap menyuguhkan cerita-cerita sejarah hingga kehidupan sosial yang kita kemas dalam cerita ludruk. Dari sisi pemahaman cerita detail mengenai bahasa, kita masih menggunakan yang asli. Karena selama ini banyak ludruk kontemporer yang ada. Intinya ludruk ini untuk menguri-uri budaya," tegasnya.
Keberadaan anak muda dalam ludruk juga menurutnya sangat penting. Sebagai generasi penerus. Bahkan di tengah gempuran gadget dan gaya hidup kekinian, masih ada anak muda yang terlibat dalam Ludruk Baru Jadi.
"Intinya kami mengajak anak muda dengan cara yang halus, mengenalkan dan menjelaskan dulu baru kita ajak latihan. Alhamdulillah sampai saat ini generasi muda di kampung kami masih mau untuk diajak berkesenian melestarikan seni ludruk," tuturnya.
Baca Juga: Trauma Tiap Jam 10 Rumah Didatangi Pria Bertubuh Besar, Ternyata yang Datang Kawanan Ini
Sementara itu, salah satu anak muda, Anggie mengaku tertarik sejak SMP sampai kelas 2 SMK menjadi bagian dari ludruk. Bahkan ia mengaku tidak malu di zaman modern menjadi pemain ludruk.
"Bangga dengan budaya dan kesenian tradisional jadi tidak malu, meski banyak teman-teman yang tahu dan bertanya-tanya tentang ludruk. Menurut saya sebagai generasi muda memang harus melestarikan seni ini," ujar Anggie. (rmt/nur)
Editor : Jay Wijayanto