Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Faktor Ini yang Menyebabkan Kasus Kebakaran di Surabaya Meningkat Tajam Lebih dari 100 Kejadian

Hildan Sepka • Senin, 8 Januari 2024 | 23:01 WIB
Photo
Photo

SURABAYA - Kasus kebakaran di Kota Surabaya sepanjang 2023 meningkat ketimbang tahun sebelumnya. Jumlahnya naik lebih dari 100 kasus kebakaran.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya menilai ada faktor alam.

Kabid Pemadam Kebakaran DPKP Kota Surabaya Wasis Sutikno membenarkan kasus kebakaran meningkat signifikan.

Pihaknya mencatat 793 kasus terjadi. Sedangkan, pada 2022 lalu, hanya terjadi 654 kasus kebakaran. "Ada kenaikan 139 kasus dengan sejumlah karakteristik," ujarnya, Minggu (7/1).

Dia menjelaskan, kendati naik, angka kasus kebakaran bangunan cenderung menurun dibandingkan pada 2022. Selama 2023, pihaknya mencatat 121 kasus. Yakni, kebakaran yang terjadi di perumahan, permukiman, industri, maupun umum.

"Kenaikan kasus kebakaran selama 2023 ini terjadi pada tiga bulan, mulai Agustus hingga Oktober. Pada Agustus, total ada 127 kasus. Disusul pada September dengan 128 kasus. Sedangkan dan Oktober terjadi 139 kasus," ungkapnya.

Wasis mengatakan, fenomena El Nino memberikan dampak signifikan. Terutama terjadinya kasus kebakaran alang-alang. Pihaknya mencatat kasus tersebut melonjak tajam.

"Penyebabnya adalah dampak badai El Nino. Itu pas panas-panasnya. Saat ada yang membuang puntung rokok, langsung tersulut dan apinya menyala," ucapnya.

Kendati hanya kebakaran alang-alang, pihaknya menerjunkan tim untuk pemadaman. Katanya tim DPKP Kota Surabaya tetap menanganinya dengan tepat. Sebab, kebakaran itu dapat merembet ke rumah warga hingga terjadi pencemaran lingkungan.

"Selain kebakaran pada lahan terbuka (non bangunan), kasus kebakaran terbanyak terjadi di perumahan dan pergudangan," terangnya.

Menjelang akhir tahun, pihaknya masih mencatat sejumlah kasus kebakaran. Antara lain, kebakaran di Kalianak, Surabaya Utara. Kawasan itu terjadi dua kali, yakni menimpa pergudangan dan Jalan Jepara.

"Surabaya Utara juga banyak kejadian kebakaran, tetapi lebih ke perumahan dan pergudangan. Puncaknya pada September terjadi 15 kasus. Kalau, untuk lahan terbuka banyak terjadi di Surabaya Barat," jelas Wasis.

Wasis menyebutkan, penyebab kebakaran pada perumahan didominasi dua hal. Yaitu, korsleting listrik dan kompor yang ditinggalkan menyala. Namun, dalam setahun terakhir, penyebab korsleting mendominasi.

"Ada dua penyebab. Pertama, kelalaian konsumen. Kedua, instalasi kabel listrik yang sudah lama di atas 20 tahun," paparnya.

Menurutnya, dalam setahun terakhir ini, Kota Surabaya mengalami badai El Nino.

Cuaca terik mengakibatkan warga lebih banyak menggunakan kipas angin dan penyejuk ruangan. Pemakaian yang tidak sesuai dengan standar membuat kabel menjadi panas dan meleleh.

"Pelelehan kabel itu bisa mengenai material di bawahnya seperti baju dan kertas sehingga menimbulkan kebakaran. Kami terus mengimbau warga untuk menggunakan alat elektronik sesuai dengan SNI dan tidak meninggalkannya dalam keadaan menyala," imbuhnya. (hil/nur)

Editor : Jay Wijayanto
#surabaya #kebakaran #el nino #faktor alam