SURABAYA - Pertunjukan wayang biasanya identik dengan pertunjukan orang-orang tua dan lokasinya berada di tempat yang lapang, atau di gedung. Namun Minggu (7/1) sore, di kawasan Kupang Gunung Tembusan 2, Putat Jaya, anak-anak terlihat menyaksikan wayang Punokawan.
Wayang yang dimainkan pun sedikit nyeleneh, namun anak-anak yang juga didampingi oleh orang tuanya tetap antusias. Apalagi dalam pertunjukan wayang disisipi oleh tarian sufi, yang mempunyai makna interaksi antara manusia dengan Tuhan-nya.
Ki Ompong Soedharsono merupakan dalang dari Wayang Blang Bleng yang dipertunjukkan di perkampungan eks Lokalisasi Dolly tersebut. Cerita yang dibawakan pun lebih dalam cerita keseharian, namun disisipi dengan cerita tentang relief Candi Borobudur.
Menurut Ki Ompong, makna dari cerita wayang untuk membangun kebersamaan dengan lebih dekat kepada anak-anak, mengedukasi dan mengingatkan orang tua agar lebih peka kepada perkembangan anak di zaman modern ini.
"Ya lebih mbaturi bocah-bocah dolanan (menemani anak-anak bermain). Dengan makna bersyukur dengan keadaan segala sekaligus mengedukasi," tutur Ki Ompong.
Dalang asal Temanggung, Jawa Tengah itu menjelaskan objek wayang Punokawan yang menjadi gambaran sebagai pamomong (dirawat atau diasuh).
Artinya orang tua jangan hanya pasrah ketika merawat anak, karena masih ada Tuhan. Selain nguri-nguri kebudayaan juga menggali potensi anak-anak yang perlu ditempatkan dalam wadah yaitu bermain.
"Ini juga mengunggah kepakaan orang tua untuk mengapresiasi anak-anak dengan bakat yang ada di perkampungan," tuturnya.
Ia juga menjelaskan, wayang blang bleng ibarat bak sampah yang dianggap sederhana namun bisa mempunyai potensi digabungkan dengan unsur apapun seperti puisi, tarian, dakwah dan interaksi.
"Semua bukan dominasi dalang namun semua berperan menjadi dalang," terang pria yang juga murid dari dalang kondang Ki Manteb Soedharsono.
Dengan pertunjukan wayang yang digelar di perkampungan, menurutnya wayang tidak ada batas dan bukan sekadar pentas.
Wayang bukan hanya untuk manusia saja yang melihat dan mendengar, namun bisa juga berinteraksi dengan tumbuhan dan membawa pesan alam lainnya.
"Jadi interaksinya bukan hanya untuk manusia saja tapi juga tumbuhan, ini sebagai edukasi bersama. Sebagai kiasan yang harus diterjemahkan yaitu manusia dan obyek sekitar di perkampungan adalah wayang kehidupan," tuturnya. (rmt/nur)
Editor : Jay Wijayanto