SURABAYA - Pemkot Surabaya tengah berupaya mengembangkan kawasan kota lama. Namun, langkahnya dinilai masih kurang maksimal. Sebab, fasilitas pendukung untuk konsep wisata Suroboyo Kuto Lawas belum banyak tersedia.
Ketua Begandring Soerabaia Nanang Purwono menjelaskan, pengembangan kawasan utara itu harus menyeluruh. Jangan sekadar merevitalisasi yang sifatnya parsial. Contohnya, hanya fokus menangani taman hingga pengecatan bangunan di zona tematik Eropa itu.
"Tetapi harus dikonsep betul apa yang perlu dilakukan dalam pengembangan kawasan dan bangunan cagar budaya tersebut," ujar Nanang, Selasa (2/1).
Konsep Pemkot Surabaya membagi kawasan utara menjadi beberapa tematik. Namun, Nanang berharap, pemkot dapat melakukan penataan secara fisik sesuai dengan sejarah bangunan dan kawasan tersebut pada era kolonial. Mulai penataan trotoar, lampu, hingga pengecatan bangunan.
"Tidak kemudian hanya membenahi tamannya saja agar terlihat bagus. Tetapi juga harus menyentuh hal yang sifatnya penunjang dan pendukung satu sama lain," jelasnya.
Selain urusan fisik, hal pendukung lainnya juga penting. Antara lain, penataan pedagang kuliner, parkir, hingga toilet umum. Sebab, sebuah destinasi harus sejalan dengan akses ke tempat tujuan wisata.
"Kita sering mendapatkan tamu kapal pesiar, mereka menggunakan bus, tapi bus ini nanti berhenti dimana. Bahkan, parkir mobil saja juga sulit di sana," tegasnya.
Ketidaksiapan pengembangan Suroboyo Kuto Lawas ini mendapat kritik dari DPRD Surabaya.
Mereka menilai pemkot belum terlihat serius menggarap konsep wisata bernuansa sejarah itu. Juga perlu kerja sama dengan pihak hotel agar ada pemasaran yang lebih masif terharap kawasan itu.
Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya Imam Syafii menilai, pemkot belum serius soal konsep Suroboyo Kuto Lawas. Dia berharap wali kota tidak hanya menunggu laporan bawahannya. Namun, terjun langsung dan meninjau kenyataan di lapangan.
"Jangan hanya deklarasi, tapi kenyataan belum ada. Kalau butuh biaya, silakan berbicara ke dewan melalui badan anggaran. Toh, kalau bisa nanti pendapatan bisa lebih besar daripada yang ditargetkan di awal. Kalau perlu melibatkan konsultan profesional," tutur Imam.
Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Surabaya Tjutjuk Supariono mengatakan, pemkot perlu menggandeng perhotelan. Tujuannya, sektor itu sebagai media promosi wisata dan agenda Surabaya. Upaya itu pernah terjadi namun tidak berlanjut.
"Dulu pernah bertemu untuk membahas wisata kesehatan antara pengelola hotel dan pemkot. Namun, sampai sekarang belum ada kelanjutan lagi. Hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi," jelasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya Wiwiek Widayati mengakui peresmian kawasan Suroboyo Kuto Lawas itu tidak bisa sesuai dengan target awal pada 31 Desember.
Sebab, masih ada penyiapan sarana dan prasarana. Mulai markah untuk pejalan kaki, penunjuk arah, hingga rekayasa lalu lintas. "Di lapangan sarana dan prasarana penunjang masih terus dilakukan," urainya.
Dia mengatakan, rute kawasan kota lama itu nanti start dari Taman Jayengrono. Warga bisa memilih alternatif moda transportasi untuk menikmati keeksotisan kawasan itu. Misalnya, jalan kaki, naik sepeda, dan keliling pakai mobil Jeep Willys.
Untuk mengoptimalkan itu, pihaknya menggandeng sejumlah pihak. Salah satunya adalah jalur sepeda hasil kerja sama Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Kota Surabaya dengan Institute for Transportationand Development Program (ITDP) Indonesia.
"Mereka membuat perencanaan dan konsep tentang bagaimana menjelajah kawasan kota tua dengan gowes. Targetnya penyiapan saran dan prasarana di sana bisa rampung awal tahun ini," katanya. (hil/rek)
Editor : Jay Wijayanto