RADAR SURABAYA - Pedagang kaki lima (PKL) di Pantai Watu-Watu Kenjeran, Surabaya, mengamuk.
Mereka mendesak Pemkot Surabaya memberi toleransi berjualan lagi di area tersebut. Sebab, pendapatan menurun sejak beralih di Sentra Ikan Bulak (SIB).
Salah satu PKL Watu-Watu Wartini mengungkapkan, aksi itu bentuk kekesalan pedagang.
Sebab, mereka dilarang berjualan di kawasan tersebut.
Mereka mendorong pihak terkait untuk memberikan toleransi berjualan lagi di area itu pada Sabtu dan Minggu.
"Unjuk rasa ini karena kami tidak diperbolehkan berjualan di kawasan Pantai Watu-Watu Kenjeran. Padahal, lokasi itu ramai pengunjung, sedangkan di sana (SIB, Red) sepi pengunjung," ujarnya, Selasa (26/12).
Dia mendesak agar itu terealisasi. Mereka akan nekat melakukan aksi serupa hingga ada kelonggaran aturan yang memperbolehkan para PKL berjualan di kawasan itu.
Terutama pada akhir pekan dan momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
"Kami berharap kalau hari libur, kami dibolehkan. Padahal, kami sudah menuruti pihak kecamatan untuk direlokasi ke SIB. Tapi kami minta kelonggaran kalau hari Minggu maupun hari libur bisa berjualan di Watu-Watu," ungkapnya.
Huri, 47, PKL lontong kupang kawasan tersebut mengatakan hal senada.
Dia mengaku, pendapatannya sebulan menurun selama berjualan di SIB.
Pada hari biasa, dia bisa meraup Rp 200 hingga Rp 300 ribu, sedangkan di dalam SIB dalam sehari hanya Rp 70 ribu.
"Kalau Minggu, hari libur bisa dapat Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta, di dalam sehari dapat Rp 10-15 ribu, meskipun dapat Rp 50 ribu ya kurang," ungkapnya.
Dia mengatakan, para pedagang tidak sepenuhnya menolak pindah ke SIB. Hanya saja meminta diberi kelonggaran. Sebab, momen hari libur akan lebih banyak pengunjung.
"Enggak setuju di SIB, enggak ada pemasukan. Hari ini habis ada rapat sama polisi, dibiarkan, enggak ada penjagaan. Rabu rapat lagi. Sudah satu bulan lebih di SIB, enggak ada hasil sama sekali. Lebih baik kejar-kejaran sama petugas. Hari biasa mau ke SIB, kalau hari libur Sabtu, Minggu keluar pasti bisa laku," paparnya.
Sementara itu, Kasitrantibum Satpol PP Kecamatan Bulak Ali Rusbianto melaporkan bahwa aksi blokade sejumlah PKL pada akhir pekan meninggalkan kerusakan.
Hampir 70 persen sarpras jalan rusak. Aksi mereka pun sempat viral. "Pagar stainless itu baru terpasang," tuturnya.
Ali mengakui, protes terjadi hampir setiap pekan. Para PKL ingin kembali berjualan di tempat lama.
Padahal, sesuai dengan kesepakatan relokasi, mereka bersedia pindah ke SIB yang seluruh fasilitasnya disediakan pemkot.
"Air, listrik, tempat gratis, dan stan juga difasilitasi," katanya. (hil/opi)
Editor : Nofilawati Anisa