SURABAYA - Pemkot Surabaya tengah menguji coba tujuh unit bus listrik. Tahapan itu akan berakhir pada Februari 2024 nanti. Setelah itu, ada wacana penambahan armada bus listrik lagi.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi berencana menambah tiga armada bus listrik tahun depan. Totalnya menjadi 10 unit.
Tapi, dia harus menunggu tahapan uji coba bus listrik yang dimulai sejak Rabu (8/11) lalu itu rampung.
"Sesuai kontrak yang sudah disepakati selama tiga bulan," ujar Cak Eri, Kamis (21/12).
Dia memastikan melanjutkan kerja sama bus listrik itu skemanya masih sama. Yaitu, Buy The Service (BTS).
Tampaknya, Cak Eri kesengsem dengan bus listrik. Selain sesuai dengan komitmennya penguatan transportasi publik yang ramah lingkungan, skema BTS lebih efisien. Sebab tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Surabaya.
"Nanti kita akan melakukan BTS dengan perusahaan swasta ini, jadi seluruh bus listrik 10 unit pada 2024," ucapnya.
Cak Eri sudah melakukan komunikasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya. Dia meminta evaluasi usai masa uji coba itu tuntas.
Setelah hasilnya positif untuk segera melakukan kerja sama lagi. "Saya sudah minta kadishub untuk melakukan BTS 2024,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya Tundjung Iswandaru menuturkan, masa uji coba tujuh unit bus listrik selesai pada Februari 2024.
Namun pihaknya tak langsung teken kontrak dengan pihak swasta. Melainkan, dia perlu mengkaji hasil evaluasi selama trial itu.
"Tiap bulan kita ada evaluasi. Karena tujuh unit ini kita operasikan bergantian tiap bulannya dan kita jalankan di beberapa rute. Kita hitung semuanya," terang Tundjung.
Rencananya setelah evaluasi final, pihaknya akan menjalin kerja sama lagi. Dia mengatakan, sesuai arahan dari Wali Kota Surabaya menggunakan skea BTS.
Baca Juga: Ria Ricis Hapus Foto Teuku Ryan di Channel YouTube, Netizen Kepo Nasib Rumah Tangganya
Dia menargetkan pada akhir Februari sudah ada kesepakatan. "Selesainya perkiraan awal Februari, harapannya akhir bulan sudah deal," tuturnya.
Pihaknya pun berencana mengonversi seluruh armada bus yang ada. Dari bus diesel menjadi bus listrik. Tapi kebijakan itu tengah digodok.
"Kita sedang berusaha menciptakan transformasi ke energi listrik, sehingga dengan demikian harapannya dapat mengurangi polusi. Sekaligus mendukung upaya zero carbon di Indonesia,” tegasnya.
Tundjung menilai upaya transformasi energi itu cukup penting. Sebab, evaluasinya terhadap bus konvensional menunjukkan biaya operasional yang besar. Sedangkan, selama uji coba bus listrik, operasionalnya cukup ringan. "Intinya lebih efisien," imbuhnya. (hil/nur)