RADAR SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Pemkot Surabaya berupaya mengontrol laju pertumbuhan penduduk. Komitmen itu berhasil menekan total fertility rate (TFR) jauh di bawah ambang batas.
Kendati berhasil, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya masih menyiapkan sejumlah langkah preventif.
Kabid Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Keluarga Sejahtera DP3APPKB Kota Surabaya Atiek Tri Arini menjelaskan, pemkot sukses mengontrol TFR selama lima tahun terakhir.
Kendati, dia mengaku, laju pertumbuhan penduduk mengalami peningkatan. Pada 2021 lalu, tercatat 0,21 persen, sedangkan 2022 tercatat 0,48 persen.
"Tapi masih dalam kategori terkendali dan angka kumulatif masih di bawah prevalensi Jatim 0,68 persen. Tidak terlalu tinggi. Karena maksimal 2 persen," ujarnya, Kamis (30/11).
Menurutnya, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi. Salah satunya adalah laju migrasi yang tidak seimbang.
Jumlah penduduk yang masuk lebih tinggi ketimbang migrasi keluar. "Kita mengamati di wilayah-wilayah perbatasan," ucapnya.
Atiek menemukan laju pertumbuhan tertinggi di Kecamatan Pakal. Tapi, jumlah kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Simokerto.
Sebaliknya, jumlah laju pertumbuhan terendah di Kecamatan Asemrowo. "Pengaruh lainnya ada faktor kelahiran atau fertilitas, jadi di sini tidak tinggi," katanya.
Dia menegaskan, upaya menekan laju pertumbuhan itu cukup penting. Sebab, jika tidak terkontrol, timbul sejumlah permasalahan.
Antara lain, ketidakseimbangan lapangan kerja dengan jumlah angkatan kerja, peningkatan kriminalitas, dan ada potensi wilayah kumuh baru.
Sehingga, kualitas kesehatan menurun. Sebab, muncul persoalan penyakit yang tumbuh di wilayah kumuh. Selain itu, permasalahan sosial ekonomi dan angka kemiskinan bakal terjadi.
"Kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Bahkan, skala nasional sebesar 1,13 persen dan berada di level terendah," bebernya.
Untuk terus menyukseskan upaya itu, pihaknya sebagai leading sector program itu menyiapkan beberapa skema.
Atiek sudah melakukan peningkatan keikutsertaan pasangan usia subur pada program keluarga berencana.
Target program itu bukan hanya masyarakat ber-KTP Surabaya. Tapi, secara menyeluruh untuk mencegah kehamilan yang tak diinginkan.
Sekaligus, berupaya meminimalkan pernikahan dini. "Kita juga berupaya meningkatkan peserta KB baru," imbuhnya. (hil/opi)
Editor : Nofilawati Anisa