Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bank Indonesia Jatim Sebut Kenaikan Harga Gula hingga Rp17 Ribu per Kg Perlu Diwaspadai

Mus Purmadani • Senin, 27 November 2023 | 15:35 WIB
KOMODITAS UTAMA: Harga gula yang terus mengalami kenaikan hingga menjadi Rp 17 ribu per kg, dikhawatirkan bisa menyumbang inflasi di bulan November ini. (ANDY S)
KOMODITAS UTAMA: Harga gula yang terus mengalami kenaikan hingga menjadi Rp 17 ribu per kg, dikhawatirkan bisa menyumbang inflasi di bulan November ini. (ANDY S)

SURABAYA - Naiknya harga gula hingga mencapai Rp 17.000 per kilogram (kg), menjadi salah satu hal yang wajib diwaspadai karena bisa menjadi penyumbang laju inflasi Jawa Timur pada November ini.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim Doddy Zulverdi mengatakan, gula termasuk dalam sektor pangan yang cukup sering menjadi kontributor dalam inflasi. Hal ini disebabkan oleh persoalan yang kompleks dari hulu sampai hilir, khususnya komoditas gula.

"Masalah komoditas gula ini cukup kompleks, baik gula konsumsi maupun gula industri atau rafinasi. Sedangkan produksi dalam negeri dari sisi hulu atau tanaman tebu dan produksi gula di pabriknya juga terbatas sehingga kita masih bergantung impor," katanya, Minggu (26/11).

Doddy mengatakan pemerintah sendiri sudah mengeluarkan kebijakan impor dengan tujuan untuk mempercepat dan meningkatkan pasokan gula nasional.

Dari sisi produksi, pemerintah dan BUMN gula juga telah berupaya memperluas lahan tebu melalui berbagai strategi kerja sama pemanfaatan lahan hutan, serta melakukan revitalisasi pabrik gula di Indonesia.

"Itu sudah berjalan tetapi memang tidak mudah, dan hasilnya tidak bisa cepat. Sehingga kecepatan penambahan pasokan dalam negeri perlu dilakukan melalui impor untuk meminimalkan gap antara demand dan suplai, sekaligus menahan laju inflasi," katanya.

Pada 2022, produksi gula nasional rata-rata mencapai 2,35 juta ton per tahun, dengan luas lahan yang berproduksi mencapai 500.000 ha. Sementara konsumsi gula nasional mencapai 2,8 juta ton per tahun, sehingga masih ada defisit sebesar 450.000 ton per tahun.

Dari jumlah produksi nasional, gula yang dihasilkan dari Jawa Timur mencapai 1,92 juta ton per tahun atau setara 49,55 persen dari total produksi nasional.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim Adik Dwi Putranto menilai Indonesia dan khususnya Jatim, seharusnya mampu menggenjot produksi tebu jika melihat sejarahnya. Pada 1930, Jatim mampu menjadi eksportir kedua di dunia dengan jumlah produksi 3 juta ton per tahun dari lahan seluas 200.000 hektare.

Namun, dalam kondisi saat ini terdapat lahan seluas 500.000 hektare, Indonesia hanya mampu memproduksi gula kurang dari 2,4 juta ton per tahun. "Mestinya dengan lahan seluas itu kita sudah bisa surplus dalam memenuhi gula nasional, dan tidak harus impor," katanya.

Adik mengatakan, sejauh ini pemerintah hanya fokus pada ekstensifikasi lahan tebu dan bukan pada intensifikasi pada produktivitas. Kondisi ini pun tidak hanya terjadi pada tanaman tebu, tetapi juga tanaman pangan lainnya.

"Ekstensifikasi dengan menambah lahan tebu sebenarnya bukan solusi yang tepat. Jadi bagaimana dengan luasan 500.000 hektare ini produktivitasnya bisa tinggi, maka diperlukan riset yang sungguh-sungguh mulai dari pengolahan lahan, penggunaan teknologi pertanian yang baik, serta dukungan insentif seperti subsidi pupuk untuk komoditas tebu," ujarnya.

Sistem Informasi Ketersediaan dan Harga Bahan Pokok Perkembangan Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim mencatat, harga rata-rata gula di Jatim pada Minggu (26/11), Rp 16.369 per kg.

Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Ngawi, Kota Madiun Rp 17.166 per kg. Harga rata-rata terendah di Kabupaten Mojokerto Rp 15.125 pr kg. (mus/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Inflasi #november #Berita Terbaru #harga gula #Bank Indonesia Jatim #Radar Surabaya