SURABAYA – Sekitar 80 persen perempuan datang berobat karena sudah terdapat benjolan di payudara. Hal inilah yang membuat angka kejadian dan kematian di Indonesia lebih tinggi daripada di luar negeri akibat kanker payudara (breast cancer).
Sehingga perlu adanya edukasi kepada masyarakat, dokter hingga pihak rumah sakit. Tujuannya agar mereka melakukan upaya preventif, terutama kepada pasien yang melakukan pemeriksaan dini kanker payudara.
Edukasi yang dikemas dalam bentuk seminar itu digelar di salah satu hotel di kawasan Gubeng. Seminar ini menghadirkan beberapa pakar dari Indonesia maupun dadi Jerman.
Menurut dokter spesialis kanker, dr. Jacobus Octovianus, SpB., MCh, FICS, kejadian kanker payudara di Indonesia maupun di luar negeri sama tinggi. Namun yang membedakan, di luar negeri angka kematian rendah karena ditemukan sejak dini. Kalau di Indonesia angka kematian tinggi.
"Di Indonesia angka kejadian tinggi 70 persen, karena mereka (pasien kanker payudara, Red) datang terlambat. Rata-rata mereka tidak tahu, rasa takut, faktor dokter, pengetahuan, atau fasilitas kesehatan," kata dr. Jacobus, Sabtu (25/11).
Untuk langkah preventif perlu dilakukan pemeriksaan dini. Karena yang paling utama menemukan benjolan sejak dini, agar lebih mudah tertangani.
"80 persen mereka datang sudah ada benjolan, padahal 2-3 tahun sebelumnya sudah benjolan sudah bisa diketahui dengan mamografi," terang pria yang juga sebagai ketua panitia seminar tersebut.
Ketua Himpunan Perawat Onkologi Indonesia (Himponi) Jawa timur Niken Zuraida menyatakan, perawat memiliki peran yang penting dalam penanganan kanker payudara di rumah sakit.
Menjadi pendamping pasien saat pasien menjalani pemeriksaan dan terapi, melakukan perawatan yang diperlukan saat terapi.
"Serta melakukan follow up yang diperlukan sehingga pasien dan keluarganya mendapatkan terapi yang tepat sesuai yang disarankan oleh dokter penanggung jawabnya," ujar Niken.
Sementara itu dokter spesialis kanker payudara dari Jerman, dr Joke Tio mengatakan dokter perlu melakukan penanganan secara dini kepada pasien untuk mengetahui apakah terdeteksi benjolan atau tidak di bagian payudara.
"Kewajiban seorang dokter dalam melakukan pelayanan kesehatan yaitu selalu tidak pernah berhenti untuk mengukur dirinya apakah yang dilakukan saat ini sudah sesuai dengan standar yang terbaru dan sudah yang terbaik untuk pasien sesuai dengan bukti sahih medis terkini sehingga benchmarking itu memang tidak pernah boleh berhenti," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa