SURABAYA - Pemkot Surabaya terus berupaya mengatasi persoalan stunting. Targetnya pekerjaan rumah (PR) itu dikebut hingga akhir tahun. Berbagai cara strategis dilancarkan untuk menekan masalah itu.
Wakil Wali Kota Surabaya Armuji berkomitmen untuk mewujudkan cita-cita itu. Dia memiliki caranya sendiri. Edukasinya itu mengandalkan media sosial.
Cak Ji, sapaan akrab Armuji, adalah salah satu pimpinan daerah yang getol memanfaatkan media sosial. Khususnya Instagram dan TikTok. Wawali kerap mempublikasi kinerjanya selama menjabat sebagai wakil wali Kota Surabaya.
Salah satunya adalah edukasi soal stunting. Dia menyampaikan pemahaman soal gizi pada anak-anak dengan cara yang unik. Itu bentuk komitmennya bersama Wali Kota Eri Cahyadi untuk mewujudkan Surabaya Zero Stunting.
Caranya memang kreatif. Salah satu videonya menjelaskan soal pentingnya pemenuhan unsur gizi dalam makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak. Dia pun mengajak ahli untuk menjelaskan itu.
”Waduh iki makanan kurang sehat, mosok sego ambek kecap tok. Sik tak jelasno tak celukno doktere,” kata Cak Ji.
Penuntasan stunting harus menyeluruh dari hulu ke hilir. Sebab, harus seiring dengan komitmen pemkot dalam menyelesaikan kemiskinan.
Sebab dalam kolom komentar, warga ikut menyinggung soal perilaku makan makanan kurang bergizi yang dicontohkan olehnya.
”Lek gak onok duwek yo kecap karo krupuk," tulis akun @Muhammad Nur Sidi176.
CakJi mengatakan, angka balita stunting di Surabaya terus membaik.
Selama periode Januari hingga September 2023, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan 2022, prevalensi stunting Surabaya berada di level 4,8 persen 923 balita hingga awal Januari 2023.
Kondisi itu terus menunjukkan capaian positif. Secara berturut-turut menurun pada Februari 872 kasus, awal Maret 850 kasus, awal April 805 kasus, dan awal Mei 2023 760 kasus.
Kemudian, awal Juni 2023 712 kasus, awal Juli 653 kasus, awal Agustus 583 kasus, awal September 533. Terakhir hingga tanggal 26 September 2023 sebanyak 529 kasus.
”Kita bersama berjuang memberikan edukasi pada masyarakat dan menerapkan kebijakan menekan angkat stunting,” tegas Cak Ji.
Pemkot pun menyiapkan sejumlah skema strategis. Yakni, rutin membagikan tablet tambah darah (TTD) untuk pelajar di sekolah atau di puskesmas seluruh wilayah Surabaya.
Selain itu, pemkot memberikan sosialisasi calon pengantin. Programnya adalah pendampingan 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).
"Kita beri pendampingan untuk ibu dan balita yang dilakukan dengan penyuluhan pemberian makanan tambahan (PMT). Selain itu, juga ada pemberian pangan olahan untuk keperluan medis khusus (PKMK)," papar Cak Ji.
Sementara itu, Camat Semampir M Yunus menyampaikan capaian kasus stunting di wilayahnya. Sekarang angka stunting tersisa 35 kasus.
"Oktober 2022 ada 87 kasus stunting. Kemudian awal tahun 2023 turun menjadi 77 stunting. Kita terus bergerak bersama stakeholder yang ada di lapangan dan alhamdulillah setiap bulan ada penurunan, sehingga sekarang tinggal 35 kasus," paparnya.
Total 35 kasus stunting terdiri dari 11 kasus yang memiliki penyakit bawaan. Dia menilai, kondisi itu menjadi kendala untuk menuntaskan stunting di wilayahnya. Tapi dia optimistis menuntaskan sisanya hingga akhir tahun.
"Karena yang 11 anak ini memiliki penyakit bawaan. Namun yang sisanya ini kami pastikan terus berupaya untuk menekan agar Desember 2023 bisa zero stunting," ungkapnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan, Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya, Ida Widayanti menyebutkan, salah satu kelurahan di Surabaya mendapat penghargaan desa bebas stunting 2023.
Capaian itu digagas oleh Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes) berkolaborasi dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). (hil/rek)
Editor : Jay Wijayanto