SURABAYA - Proyek pembangunan jalan lingkar di Kota Surabaya berjalan kurang mulus.
Progresnya sampai sekarang belum signifikan. Sebab, masih terkendala pembebasan lahan.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya Lilik Arijanto mengatakan, pembangunan Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) berhenti sementara tahun ini.
Rencananya tahun depan proyek jalan sepanjang 15,2 kilometer itu diambil alih pemerintah pusat.
"Dikerjakan 2024, tapi sebelum pengerjaan berjalan, pemkot diminta memastikan ketersediaan lahan," ujar Lilik Arijanto kepada Radar Surabaya, Senin (6/11).
Menurut dia, pembangunan JLLB fokus pada area junction. Yaitu penghubung kawasan Tambak Osowilangun.
Titik itu bakal menghubungkan JLLB dengan jalur menuju Gelora Bung Tomo (GBT), tol modifikasi Romokalisari, dan flyover (FO) Teluk Lamong.
”Ketika JLLB rampung, bisa terhubung dengan jalur-jalur lain,” terangnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya Aning Rahmawati menyebutkan, progres pembangunan dua jalan lingkar itu belum signifikan.
Untuk mempercepat proyek itu DPRD Kota Surabaya mendorong pemkot untuk menentukan langkah.
Yaitu, berkoordinasi dengan pemerintah pusat.
"Dari total panjang jalan 16,8 kilometer, akses yang sudah dibangun baru berkisar 850 meter di daerah Kedung Cowek, Kenjeran. Selebihnya belum ada pembangunan," sebut Aning.
Pembangunan Jalan Lingkar Luar Timur (JLLT) melintasi enam kecamatan.
Yakni, Kecamatan Kenjeran, Bulak, Mulyorejo, Sukolilo, Rungkut, dan Gunung Anyar.
Titik terakhir akan tersambung dengan exit tol Tambak Sumur, Sidoarjo.
Selain pengerjaan konstruksi, target yang harus dipenuhi adalah soal pembebasan lahan.
JLLT memerlukan anggaran yang fantastis untuk itu.
Nilainya diproyeksi mencapai Rp 7 triliun untuk kebutuhan lahan 500 ribu meter persegi.
”Anggaran ini sangat besar. Itu bisa berubah karena harga lahan kan terus bergerak,” paparnya.
Aning mendorong pemkot segera berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Sehingga mendapatkan bantuan dari APBN.
Tujuannya agar mempercepat pembangunan infrastruktur itu.
”Dengan bantuan APBN, JLLT bisa rampung lebih cepat,” urainya.
Dia meminta pemkot proaktif. Yaitu berkomunikasi dengan Kementerian PUPR maupun anggota DPR RI. Tujuannya agar pembangunan JLLB dan JLLT segera rampung.
”Kalau tidak ada upaya luar biasa, proyek ini sulit terhubung semuanya. Padahal, akses ini sangat strategis,” ungkap Aning.
Menurut dua, dua jalan itu cukup krusial karena dapat menyokong kemajuan Kota Surabaya. Selain meningkatkan mobilitas, bisa membuka kawasan perekonomian baru.
"Ekonomi warga juga makin berkembang karena antarkawasan akan terkoneksi. Mulai dari Surabaya Barat, Timur, hingga Selatan," paparnya. (hil/opi)
Editor : Nofilawati Anisa