SURABAYA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur terus berupaya lepas dari middle income trap.
Salah satunya yang digalakkan adalah pembangunan kawasan desa.
Dalam hal ini pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) ini dapat menunjang pembangunan desa yang akan berimbas pada peningkatan perekonomian masyarakat.
Menurutnya, potensi untuk memperbaiki perekonomian tidak hanya di kota karena Pandemi Covid-19 telah menciptakan urban poverty.
Sehingga strategi yang perlu dilakukan adalah membangun desa.
“Jawa Timur memiliki potensi untuk lepas dari middle income trap. Kita bangun betul dulu core economy-nya. Dan membangun ruang untuk nilai tambah ini harus dari SDM atau value added. Human input lebih tinggi inilah yang akan menciptakan pertumbuhan. Mau tidak mau kuncinya human capital,” ujarnya pada Radar Surabaya, Kamis (2/11) .
Melihat kondisi desa di Jatim, Emil mengatakan bahwa berbagai potensi desa dapat menjadi referensi bagi SDM untuk mengembangkan usaha produk dan jasa.
“Masih ada ruang untuk hidup lebih sejahtera di desa. Ini membuka peluang, infrastruktur juga makin baik. Dengan aksesibilitas yang baik, tinggal di desa bukan penghalang untuk menjadi sukses,” katanya.
Lebih lanjut Emil mengatakan sektor produk dan jasa dapat meningkatkan perekonomian di desa, bahkan menjadikan suatu desa sebagai Desa Mandiri.
Hal ini dikarenakan hampir sepertiga masyarakat Jawa Timur bekerja di bidang pertanian.
Meski demikian, sumbangsih pertanian pada perekonomian hanya 10 persen. “Infrastuktur pedesaan sekarang sudah semakin baik dan ini diperlukan agar lapangan pekerjaan di luar sektor pertanian dapat dibuka guna menghidupkan daerah pedesaan,” ungkapnya.
Terbukanya lebih banyak lapangan pekerjaan, terutama dari sektor industri sekunder dan tersier di pedesaan, juga akan mendukung kolaborasi antara SDM kota dan SDM desa melalui Millenial Job Center (MJC).
“Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mau migrasi ke digital membutuhkan talenta untuk membangun ekosistem digitalnya. Sektor sekunder dan tersier membutuhkan penguatan SDM untuk bisa meningkatkan perekonomian. Nah disinilah MJC dapat masuk, baik dengan membantu desain, foto, dan video, atau memberikan pelatihan,” katanya.
Istilah middle income trap pertama kali dibahas oleh Bank Dunia (World Bank) pada tahun 2007 dalam laporan yang berjudul An East Asian Renaissance: Ideas for Economic Growth.
Secara harfiah, jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia middle income trap memiliki arti ‘Jebakan Pendapatan Kelas Menengah’.
Istilah ini menggambarkan situasi dimana suatu kawasan berhasil mencapai peningkatan dari segi ekonomi.
Yakni berada pada tingkat menengah namun sayangnya terjebak pada level yang sama.
Alhasil, negara tersebut kesulitan untuk menjadi negara maju atau memiliki high income.
Secara garis besar dapat ditarik kesimpulan bahwa negara yang terjebak pada middle income mengalami fenomena stagnasi dalam pendapatan kelas menengah, dan belum mampu mencapai kelompok income yang baru akibat beragam faktor.
Salah satu faktor penyebab adanya jebakan middle income yaitu kurang kompetitif pada sektor manufaktur.
Hilangnya sikap kompetitif dalam sektor manufaktur ini dianggap mengkhawatirkan jika dilihat dari segi ekonomi. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa