SURABAYA - Duka masih menyelimuti rumah orang tua korban pembunuhan Fitria Al Muniroh, 23, di Kelurahan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya.
Beberapa kerabat dan tetangga masih datang untuk takziah di rumah orang tua kandung korban, Rabu (1/11).
Pembunuhan sadis tersebut dilakukan oleh mertua korban sendiri, Khoiri atau Satir, 53, di rumah Desa Parerejo, Purwodadi Pasuruan, Selasa sore (31/10).
Korban dibunuh dalam kondisi hamil tujuh bulan.
Ibu korban, Afini mengatakan, ia mendapat kabar pertama kali dari pihak keluarga Pasuruan bahwa anaknya mengalami pendarahan.
Ia lalu berangkat ke Pasuruan sekitar pukul 19.00 WIB.
Baca Juga: Rochmad Bagus Terdakwa Pembunuh Mahasiswi Ubaya Surabaya Didakwa Pembunuhan Berencana
Sesampainya di Puskesmas setempat, ternyata korban sudah tak bernyawa karena dibunuh mertuanya.
Kondisinya korban mengalami luka sayatan di leher.
Pihak keluarga Pasuruan memberikan kabar pendarahan supaya orang tua kandung tidak shock dari awal.
"Anak saya luka di sini (leher kanan) menganga. Tanganya megang perut (hamil) cuma wajahnya senyum," ujarnya ditemui di rumah kawasan Medokan Ayu, Rabu (1/11).
Afini sangat shock dan menangis mengetahui anaknya meninggal dunia karena dibunuh mertuanya sendiri.
Perempuan 49 tahun ini mengaku sangat kehilangan.
Selain kehilangan anaknya, juga kehilangan calon cucu pertama.
Menurutnya, pada Selasa (31/10) sekitar pukul 13.00 anaknya baru saja menghubungi melalui video call.
Sang anak sempat menanyakan kabar ibunya.
Video call tersebut berlangsung hampir dua jam.
Dalam video call korban sempat bercerita hendak menjual televisi dan STB.
Uang hasil penjualan rencana hendak dipakai membeli sepeda untuk aktifitas sehari-hari.
"Jadi dia itu dalam satu bulan ini, setiap kali WA saya selalu bilang; ibu baik-baik saja, aku minta maaf merepoti ibu, saya belum bisa membahagiakan ibu," ucapnya menirukan perkataan anaknya.
Baca Juga: Ronald Tannur Anak Anggota DPR Penganiaya Pacar di Karaoke Surabaya Dijerat Pasal Pembunuhan
Ibu tiga anak ini menyebut, sebelum kejadian korban tidak pernah cerita ada tindakan kekerasan atau lainnya.
Korban sendiri menikah dengan Sueb, anak pelaku sejak Mei lalu.
Setelah menikah, korban ikut tinggal di rumah suaminya, di Pasuruan.
Di rumah tersebut korban tinggal bersama suami dan mertua lelakinya.
Menurutnya, saat kejadian suami korban tidak di rumah.
Suami korban sedang interview kerja.
Sebab, sebelumnya menganggur karena ada pengurangan dari tempat kerja yang lama.
Suami korban baru pulang sore hari dan mendapati korban bersimbah darah.
Pihak keluarga juga belum mengetahui motif pasti kasus pembunuhan tersebut.
Menurut Afini, pelaku selama ini dikenal baik.
Dua pekan lalu, Afini berkunjung ke Pasuruan menemui anaknya yang sedang hamil.
Pihak keluarga tidak menyangka pelaku akan berbuat setega itu.
"Saya ingin keadilan. Pelaku dihukum seberat beratnya, dihukum seadil-adilnya," harapnya.
Dia menyatakan, anaknya merupakan sosok pendiam dan tidak neko-neko.
Selain itu juga gemar memasak sebelum berumah tangga.
Korban sendiri saat ini juga masih kuliah semester 1 jurusan akutansi di Universitas Terbuka, Surabaya.
Sebelum kejadian nahas, pihak keluarga sebenarnya ingin merencanakan acara tingkepan pertengahan bulan.
Sementara paman korban, Eka Zali menambahkan, almarhumah telah dimakamkan di pemakaman umum sekitar tempat tinggal di Parerejo, Purwodadi Pasuruan Rabu pagi.
Pihak keluarga di Surabaya berharap pelaku dihukum seberat-beratnya karena telah menghilangkan nyawa korban dengan cara yang keji.
"Harapan keluarga tentu pelaku dihukum maksimal. Korban ini sedang hamil. Pada hal rencana keluarga Surabaya hendak merencanakan tingkepan dalam waktu dekat," tandasnya. (rus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa