SURABAYA - Harga cabai meroket di Surabaya. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya mencatat sejumlah faktor. Kondisi ini tidak di alami oleh Kota Pahlawan saja.
Kepala DKPP Kota Surabaya Antiek Sugiharti mengatakan, kenaikan harga komoditas itu dipicu karena cuaca.
Panas ekstrem menyebabkan gagal panen. Akibatnya, stok menurun. "Ditambah lagi sekarang belum waktunya produksi," ujar Antiek kepada Radar Surabaya, Rabu (1/11).
Kondisi itu pun mengganggu jumlah stok di Kota Pahlawan. Sehingga kebutuhan komoditas itu terganggu.
Sebab, permintaan cabai di pasaran cukup tinggi. "Kita tengah membahas upaya penanganannya," terangnya.
Atiek menuturkan, harga cabai di hulu cukup tinggi. Antara lain, Kediri, Pasuruan, Malang, dan Madura.
Itu menyebabkan suplai ke Surabaya pun mengalami kenaikan.
"Langkah dari pemkot mencari dari daerah sumber penghasilnya dan ternyata harganya sudah mahal dari daerah asalnya," katanya.
Dia menyebutkan, persoalan ini menjadi ancaman wilayah di Jawa Timur.
Sebab, kenaikan harga cabai itu hampir menyeluruh.
Selain Kota Surabaya, Situbondo dan Jember mengalami kenaikan. "Memang tidak di Surabaya saja," ungkap Atiek.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi tengah mematangkan pola penanganan itu.
Baca juga: Gak Marem Cuma Diajak Karaoke, Donwori Pilih Cinta yang Lain
Dia berupaya untuk mengatasi kenaikan harga cabai yang terjadi. Yakni, mengalkulasi harga terendah dan tertinggi dan mencatat ketersediaan stok di Kota Pahlawan.
"Sekarang ini Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kami lagi rapat untuk menghitung," papar Cak Eri.
Cak Eri terus berkoordinasi dengan TPID. Hasil perhitungan TPID bakal menjadi acuannya. Tujuannya untuk menentukan langkah strategis dalam upaya menekan inflasi.
"Kami sudah siapkan untuk subsidinya, maksimalnya berapa kami hitung," katanya. (hil/rek)
Editor : Jay Wijayanto