SURABAYA - Sosok Sawunggaling kurang dikenal generasi milenial.
Karena itu, Jurusan Seni Tari, Drama, dan Musik (Sendratasik) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar ruang srawung seni pertunjukan ludruk di kampus Unesa, Lidah Wetan, Surabaya, kemarin (31/10).
Sutradara Moh Khotib Hidayatullah mengatakan, pertunjukan itu merupakan kolaborasi mahasiswa, dosen, dan KKM di Jurusan Sendratasik Unesa.
“Tidak hanya mahasiswanya saja yang dituntut untuk berkarya, dosen juga. Ini kali kedua pergelaran kolaborasi,” kata Khotib kepada Radar Surabaya.
Lakon Sawunggaling sudah tak asing lagi.
Apalagi ada pesarean Joko Berek alias Sawunggaling di Lidah Wetan.
Namun, Khotib belum melihat adanya riset oleh sejarawan dan pelaku seni mengenai sosok Sawunggaling.
“Sayang kalau legenda tersebut hanya berhenti di hati warga Lidah Wetan,” katanya kepada Radar Surabaya.
Khotib mengambil spirit dari seorang Joko Berek dan Dewi Sangkrah, ibundanya, yang tidak mengetahui keberadaan sang ayah.
Dewi Sangkrah memberitahukan rahasia keberadan ayahnya membuat Joko Berek ingin sekali menemui ayahnya sampai terbawa mimpi.
Sehingga, diambilah Impen sebagai penanda dari cerita Joko Berek alias Sawunggaling.
Selain itu, Khotib secara tidak langsung mengajak rekan-rekan pelaku seni ludruk untuk terus mengangkat tokoh-tokoh yang sejatinya merupakan cerita lisan zaman dahulu.
“Saya ingin mengenalkan kepada teman-teman bahwa ludruk itu tidak berkutat dengan cerita yang itu-itu saja. Bisa juga membawakan cerita-cerita rakyat melalui pengembangan kebutuhan pertunjukan,” kata Khotib.
Menurut dia, dulu ada gedung khusus untuk pertunjukan ludruk dan ketoprak di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.
Namun, gedung kesenian tersebut sudah digusur sejak tahun 2018 lalu.
Sampai sekarang tidak gedung baru untuk pementasan ludruk, ketoprak, dan seni tradisional lainnya.
“Maka, kita mencoba mengahdirkan kesenian rakyat, teater tradisi, ludruk, dan ketoprak. Ini akan menjadi sebuah awalan atau langkah baru dengan kita tiketkan,” kata Khotib.
Khotib menilai antusiasme dari mahasiswa dan masyarakat umum cukup besar untuk menyaksikan ludruk generasi milenial.
Dia berharap agar pementasan seperti ini akan terus digelar di Surabaya.
“Agar masyarakat terus mencintai seni budaya tradisi,” katanya. (jih/waf/opi)
Editor : Nofilawati Anisa