SURABAYA - Selama ini kita mengenal pisang cavendish merupakan tanaman yang tumbuh dengan media tanah.
Bahkan pembibitannya juga lebih sering dilakukan dengan menggunakan tanah.
Namun di Laboratorium Green House Anggrek Sememi, pembibitan pisang cavendish dilakukan dengan menggunakan media alternatif baru.
Yakni menggunakan media organik dari daun kelor dan kedelai.
Pembibitan tersebut untuk memperbanyak tunas.
Jumlahnya kini sudah mencapai 500 bibit pisang cavendish yang sudah mengalami proses pembibitan variasi tanaman itu.
Menurut Tenaga Laboratorium Kultur Jaringan Green House Anggrek Sememi, Anis Saturisda, tahun ini pihaknya fokus pada pembibitan dan pengembangan dengan menggunakan alternatif baru dengan menggunakan jenis tanaman kedelai dan daun kelor.
"Hasilnya sudah banyak selama tiga bulan ini," kata Anis, Rabu (25/10).
Setelah dilakukan pembibitan melalui percampuran dua varian tanaman itu, pihaknya melakukan pemindahan ke ruang aklimatisasi dengan menggunakan media pasir sekitar tiga bulan setelah itu bibit tersebut di pindah ke green house.
"Dengan proses pembibitan ini lebih hemat dari pada menggunakan kimia. Mangkanya kami coba memperbanyak tunas pisang agar berkembang," ujarnya.
Pisang cavendish termasuk salah satu jenis pisang yang punya harga menguntungkan.
Kandungan gizi yang dimiliki juga tinggi.
Tahun lalu pihaknya bisa melakukan pembibitan mencapai 1.000 pisang.
Dan sudah tersebar di Taman Hutan Rakyat (Tahura) untuk proses penghijauan maupun konsumsi warga.
"Target tahun ini lebih pengembangan ke media alternatif. Semoga saja bisa tumbuh lebih banyak," harapnya.
Nantinya penanaman dilakukan bersama beberapa tanaman produktif lain di area tanah kosong.
Lahan tersebut direncanakan untuk pengembangan Tahura.
Selama belum ada pembangunan, tanah tersebut digunakan untuk menghasilkan bahan pangan. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa