SURABAYA – Di tengah zaman yang modern perajin batik masih saja menggunakan canting konvensional untuk membuat batik tulis dengan berbagai macam motif.
Seperti yang dilakukan oleh para perajin batik di Dewi Saraswati Batik. Perajin batik yang mayoritas sudah berumur tersebut terus gigih dalam mengerjakan batik tulis.
Bahkan dari tangan perajin batik yang digawangi oleh Putu Sulistiani inilah enam motif batik khas Surabaya dihasilkan.
Yakni kintir-kintiran, sparkling, gembili Wonokromo, abhi boyo, kembang bungur, dan batik remo Surabayan.
Putu Sulistiani merupakan ownner dari Dewi Saraswati Batik yang berada di kawasan Jemursari.
Menurut Putu Sulistiani, penggunaan canting konvensional yang dibakar dengan tungku untuk batik saat ini terus dilestarikan oleh pegawai-pegawai yang merupakan perajin batik sejak usia dini.
Jika dibandingkan dengan dengan canting elektrik penggunaan canting sangat berbeda hasilnya.
"Kalau ngomong soal hasil jelas berbeda. Canting konvensional dalam batik tulis tetap kami lestarikan agar kualitasnya juga baik," kata Putu, Senin (16/10).
Lebih lanjut ia menjelaskan, penggunaan canting konvensional hasilnya sangat luwes atau halus bahkan goresannya sampai nol.
Apalagi ia mengaku, UNESCO sebagai organisasi internasional yang bergerak pada bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan dari PBB mensyaratkan batik yang diakui dengan pembuatan secara konvensional.
"UNESCO mensyaratkan sebagai syarat untuk mengakui batik sebagai warisan budaya pembuatannya harus melalui canting secara konvensional. Karena itu pengaruh ke kualitas dan goresan," terangnya.
Batik yang dibuat oleh para perajin tersebut sudah go internasional. Dipesan dari Jepang hingga Belanda.
Tak jarang turis asing berkunjung untuk melihat pembuatan batik dan membelinya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, batik khas Surabaya mempunyai corak yang ngejreng atau mencolok karena mencerminkan karakter orang Surabaya. Apalagi Surabaya merupakan kawasan pesisir. (rmt/nur)
Editor : Jay Wijayanto