SURABAYA - Badan Pudat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat luas panen padi pada 2023 diperkirakan sekitar 1,68 juta hektare.
Angka tersebut mengalami penurunan sebanyak 7,65 ribu hektare atau 0,45 persen dibandingkan luas panen padi di 2022 yang sebesar 1,69 juta hektare.
Kepala BPS Jatim Zulkipli mengatakan, produksi padi pada 2023 diperkirakan sebesar 9,59 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
Capaian tersebut mengalami peningkatan sebanyak 64,91 ribu ton GKG atau 0,68 persen dibandingkan produksi padi di 2022 yang sebesar 9,53 juta ton GKG.
“Produksi beras pada 2023 untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan sekitar 5,54 juta ton, mengalami peningkatan sebanyak 37,48 ribu ton atau 0,68 persen dibandingkan produksi beras di 2022 yang sebesar 5,50 juta ton,” jelasnya, Selasa (17/10).
Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Dydik Rudy Prasetya.
Menurut Dydik, selama ini, dari tahun ke tahun, angka alih fungsi lahan cukup besar.
“Yakni sekitar 1.000 hektare hingga 1.100 hektare per tahunnya,” katanya.
Dydik mengatakan untuk mengantisipasi alih fungsi lahan itu, Jatim memiliki Perda Lahan Pangan Pertanian Berkelanjutan (LP2B), yakni Perda nomor 12 tahun 2015.
Selain itu, lanjut Dydik, pihaknya juga mewajibkan seluruh kabupaten/kota untuk membuat Perda tentang LP2B.
Disebutnya, dari 38 kabupaten/kota di Jatim, baru 16 daerah yang sudah clear mempunyai Perda ini yang berbasis spasial.
Artinya lahan kepemilikan petani sudah dipetakan.
"Kemudian dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) sudah menetapkan luas Lahan Baku Sawah (LBS) di Jatim kurang lebih sekitar 1,2 juta hektare,” jelasnya.
Harapannya, lanjut Dydik, agar kabupaten/kot jika ingin mengembangkan wilayahnya untuk keperluan di luar pertanian, mereka memperhatikan LP2B maupun Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD) yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
Sehingga kalau memang harus memanfaatkan lahan pertanian itu ke non pertanian seperti perumahan maupun industri, harus menggunakan Lahan Cadangan Pangan Berkelanjutan.
“Nah Lahan Cadangan Pangan Berkelanjutan inilah yang nanti diambil lagi untuk dimasukkan menjadi LP2B. Sehingga bagi kami memang Jawa Timur sebagai provinsi penghasil produksi beras terbesar Indonesia memang mempunyai kewajiban untuk mempertahankan lahan-lahan pertanian pangan berkelanjutan dan ini sudah kita tuangkan dalam Perda,” paparnya.
Meski demikian, Dydik mengaku berkurangnya lahan pertanian atau alih fungsi lahan ini memang terjadi di beberapa kabupaten.
Dan ini menurutnya menjadi kewenangan kabupaten untuk alih fungsi lahan atau tidak.
“Tentunya semua berdasarkan pada peraturan perundangan yang berlaku tidak semena-mena melakukan perubahan. Karena Kabupaten juga punya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang membuat untuk tidak semena-mena langsung berubah alih fungsi lahan,” terangnya.
Menurut Dydik, perubahan alih fungsi lahan memang ada dampak terhadap produksi yang dicapai oleh Jawa Timur, meskipun kecil persentasenya.
“Nah untuk itulah kita selain pendekatannya areal, Kita juga melakukan pendekatan peningkatan produksi maupun produktivitas menggunakan intensifikasi pada pertanian,” terangnya.
Pihaknya memproyeksikan produksi beras di Jatim mulai September-Desember nanti akan mencapai 1.293.452 ton.
Dydik mengatakan lahan produksi padi di Jatim terdampak kekeringan atau El Nino seluas 969,50 hektare.
Tetapi lahan yang terkena puso atau gagal panen hanya 81 hektare, dan lahan kekeringan yang telah pulih sudah seluas 24,5 hektare.
“Kami telah melakukan berbagai upaya agar dampak El Nino tidak merusak sektor pangan. Sejak awal kami sudah memberikan early warning agar petani menanam bibit benih yang tahan kekeringan, serta tiap daerah mengoptimalkan pompa air yang ada di kelompok tani agar tidak sampai puso,” jelasnya
Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim mencatat, sepanjang Januari-Agustus 2023, Jatim telah memproduksi padi sebanyak 9.299.226 ton GKG, dan menghasilkan beras sebanyak 5.960.804 ton.
Sementara tingkat konsumsi beras di Jatim rata-rata 261.338 ton per bulan.
Atau mencapai 2.090.704 ton beras selama Januari-Agustus 2023, sehingga sepanjang tahun ini, Jatim mengalami surplus beras sebanyak 3.870.100 ton.
“Secara total produksi beras selama September-Desember 2023, diperkirakan akan memproduksi sebanyak 1.293.452 ton beras, dan jumlah konsumsi sebanyak 1.045.352 ton, sehingga nanti akan ada suprlus beras 248.100 ton,” katanya.
Lebih rinci, prognosa khusus pada Desember 2023 saja, produksi gabah hanya akan mencapai 352.858 ton GKG dari lahan panen seluas 63.436 hektare, dengan produksi beras 226.182 ton.
Dari jumlah produksi beras itu, dikurangi konsumsi 261.338 ton, sehingga terjadi defisit beras 35.156 ton. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa