SURABAYA - Suasana Pantai Kenjeran, Surabaya, Minggu (1/10) pagi hingga siang, begitu ramai. Ribuan warga menyaksikan balap perahu layar tradisional.
Puluhan perahu hias beradu cepat untuk sampai ke garis finis. Jarak tempuh sekitar tujuh kilometer dan harus melewati lima titik pos. Tanpa menggunakan mesin sebagai penggerak perahu, para peserta harus menggunakan layar sebagai pengganti mesin.
Selain itu, keseimbangan perahu juga harus diperhatikan agar perahu tetap seimbang sampai garis finis. Namun, tak sedikit perahu layar yang oleng dan terbalik akibat tidak seimbang.
Ketua Panitia Sampan 2023 Hilman Ikmal Iman mengatakan, lomba perahu layar tradisional ini sebagai uji ketangkasan para nelayan di tengah Selat Madura. Peserta hanya menggunakan layar saja dan keseimbangan perahu.
"Total ada 38 perahu yang mengikuti perlombaan ini. Mulai Sabtu, hari ini (Minggu) semifinal dan final. Dalam final ada 10 perahu yang harus berpacu memperebutkan juara," kata Ikmal.
Setiap perahu layar ada tiga awak. Satu orang sebagai joki dan dua sebagai penyeimbang agar perahu tidak terbalik.
Ikmal menjelaskan, tujuan diadakan perlombaan ini untuk mewadahi masyarakat pesisir yang setiap harinya berprofesi sebagai nelayan dan menarik perhatian pengunjung di Pantai Kenjeran.
Selain diambil juara satu, dua, dan tiga, panitia dari Teknik Perkapalan Institut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) itu juga menilai perahu terunik dengan berbagai hiasan.
Mulai dari lambung perahu hingga layar yang dihiasi berbagai macam gambar seperti Ninja RR, Arjuna, hingga Sang Proklamator Soekarno.
"Selain kecepatan, kami juga menilai perahu tercantik dinilai dari layar yang dihias baik di sisi lambung dan juga layar," terangnya.
Dalam perlombaan bertajuk Fisherman Sailing Competition (SFSC) itu, yang menjadi juara pertama perahu Arjuna, disusul Ninja RR dan Pandawa sebagai pemenang kedua dan ketiga.
Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kejuaraan perahu layar tradisional tahun ini lebih meriah. “Tahun ini diikuti 38 perahu, sedangkan tahun lalu hanya 20-an perahu,” kata Ikmal. (rmt/rek)
Editor : Jay Wijayanto