Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Latih Kepercayaan Diri Disabilitas dengan Batik Shibori Jepang

Rahmat Sudrajat • Senin, 25 September 2023 | 00:57 WIB

 

KREATIF: Anak-anak berkebutuhan khusus atau disabilitas saat membuat kain tenun shibori, mulai dari proses pembuatan pola, pencelupan hingga penjemuran, di Kebun Bibit Wonorejo, Minggu pagi (24/9). (R
KREATIF: Anak-anak berkebutuhan khusus atau disabilitas saat membuat kain tenun shibori, mulai dari proses pembuatan pola, pencelupan hingga penjemuran, di Kebun Bibit Wonorejo, Minggu pagi (24/9). (R

SURABAYA - Meski mempunyai keterbatasan, tak menyurutkan semangat anak-anak berkebutuhan khusus (disabilitas) untuk belajar berkarya membuat batik shibori dari Jepang.

Berbagai macam pola dibuat sebelum kain tenun itu dicelupkan ke pewarna neptol dan remasol.

Pembuatan batik shibori dengan teknik tie dye diajarkan kepada puluhan anak disabilitas, Minggu (24/9) di Kebun Bibit Wonorejo, Rungkut, Surabaya.

Salah satu anak disabilitas, Sekar mengaku senang mengikuti latihan shibori. Ia sendiri membuat pola dari kelereng.

"Ya senang bisa buat shibori" kata Sekar. Gadis 24 tahun itu membuat pola berbentuk kelereng yang diikat di kain, sebelum dicelupkan ke warna biru tua.

Selain senang bisa membuat shibori, ia juga senang bisa bertemu dengan teman-teman yang lain. "Asik bisa bertemu teman-teman," ujarnya.

Mereka juga mengikuti tahapan pembuatan batik shibori. Mulai dari membuat pola yang kemudian diikat (tipe dye) lalu dicelupkan dalam pewarna di bak.

Setelah itu mereka juga harus membilas dan membuka ikatan pola tersebut. Selain itu mereka juga menjemur kain tenun tersebut.

Sementara itu menurut owner Fira Modeling Disabilitas, Esti Yuniarti, tujuan latihan kepada anak-anak disabilitas agar meningkatkan kepercayaan diri.

Selain itu, juga untuk melatih minat bakat agar mereka ke depan bisa memproduksi dan menghasilkan sendiri.

"Harapannya mereka bisa mandiri dan percaya diri, karena tidak selamanya mereka tergantung dengan orang tua," kata Esti.

Tiap pola shibori yang dihasilkan berbeda-beda, tergantung kreatifitas anak-anak.

Namun sebelumnya mereka juga diberikan bekal dan materi sebelum mempraktekkan langsung.

Seperti diketahui bahwa shibori telah digunakan sejak zaman kekaisaran Jepang.

Bahkan beberapa pewarna alami dapat bertahan 600 tahun lamanya.

Ke depan hasil dari karya pembuatan shibori akan digunakan untuk fashion anak-anak disabilitas.

Kegiatan rutin digelar dengan berbagai materi, mulai dari fashion, dance, beauty class hingga publik speaking.

"Ke depan bisa digunakan untuk fashion karya mereka," pungkas Esti. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#belajar #disabilitas #Batik #kebun bibit #shibori #wonorejo #jepang