SURABAYA - Pertunjukan drama teatrikal semarak di Jalan Tunjungan. Tampak pemeran dalam peristiwa perobekan bendera. Terdapat beberapa pembabakan yang mengisahkan tentang sejarah perjuangan arek Surabaya.
Penulis Naskah Drama Musikal Merdeka Merah Putih, Heri Prasetyo mengatakan, drama musikal itu mengisahkan perjuangan Ir Soekarno.
Masa itu, Presiden Pertama Indonesia mengeluarkan Maklumat Pekik Merdeka. Sekaligus, pengibaran bendera merah putih di seluruh wilayah Indonesia.
"Maklumat tercetus pasca kemerdekaan dan bertepatan dengan lahirnya Ratu Wilhelmina," ujarnya, Minggu (17/9).
Saat itu terjadi peritiwa revolusi mental Surabaya dalam mempertahankan dan membela bangsa yang telah merdeka. Kondisi ini menjadi pelecut terjadinya perobekan bendera Belanda yang masih berkibar di berbagai titik di Surabaya.
"Kami konsep berformat happening art," ucap Heri Lentho, sapaan akrabnya.
Salah satunya peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato, sekarang Hotel Majapahit pada 19 September 1945.
Kejadian itu menginspirasi drama teatrikal ini. Heri menyebutkan ada sekitar lima episode.
"Mulai pengenalan kehidupan dan situasi Tunjungan Tempo Dulu dan penggambaran hilir mudik pejalan kaki di depan Hotel Majapahit," terangnya.
Selanjutnya, Wali Kota Eri Cahyadi yang memerankan Ir Soekarno membacakan Maklumat Indonesia Merah Putih dan pekik merdeka.
Ucapannya terdengar lantang di kawasan Jalan Tunjungan itu. Tujuannya untuk menggelorakan proklamasi kemerdekaan RI.
"Sebagai salam nasional. Dalam ucapannya mewajibkan seluruh rakyat Indonesia untuk mengibarkan bendera merah putih dan memberlakukan salam merdeka sebagai salam nasional kemerdekaan," bebernya.
Tak lama, kentongan dan tiang listrik berbunyi nyaring. Sekaligus terdengar teriakan "Surabaya siap, musuh telah datang, penjajah telah datang". Keributan itu menandakan Ploegman Cs datang.
"Adegan ini warga Surabaya mencurigai dan bersiap adanya gelagat Belanda yang ingin menjajah lagi," paparnya.
Kecurigaan memuncak ketika ada Bendera Belanda. Merah putih biru berkibar di Surabaya. Adegan penuh semangat menggelora. Seketika, terdengar bunyi tembakan antara Mr Ploegman dan Cak Sidik, pengawal Jenderal Soedirman. Arek-arek Suroboyo geram.
Mereka menaiki menara itu, sekaligus merobek bendera itu pada bagian warna biru. Adegan itu tampak heroik. "Semua lantang meneriakkan merdeka sambil sikap sigap menghormat dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya," beber Heri. (hil/nur)
Editor : Nofilawati Anisa