Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Menilik 2 Museum Penanda Pergerakan Nasional di Kawasan Peneleh Surabaya

Jay Wijayanto • Jumat, 1 September 2023 | 17:42 WIB
Museum HOS Tjokroaminoto di Jalan Peneleh gang VII Surabaya. (RESA/RADAR SURABAYA)
Museum HOS Tjokroaminoto di Jalan Peneleh gang VII Surabaya. (RESA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Peneleh sejak lama menjadi salah satu kawasan bersejarah di Surabaya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya temuan barang/artefak sejarah, petilasan dan cerita seputar kehidupan masa lampau sejak zaman Majapahit hingga perjuangan kemerdekaan RI.

Salah satu bukti petilasan sejarah itu diabadikan dalam dua museum di kawasan Peneleh yang didirikan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk mengenang kisah perjuangan para tokoh pahlawan yang berjasa untuk negeri ini. Sekaligus sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa mereka.

Yang pertama adalah Museum HOS Tjokroaminoto. Museum ini berdiri di bekas rumah Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto di Jalan Peneleh gang 7 Surabaya. Museum yang diresmikan sejak 27 November 2017 oleh mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ini menyimpan sejarah perjuangan Tjokroaminoto, pahlawan nasional kelahiran Ponorogo yang menjadi salah satu bapak bangsa.

Bagian dalam ruang tamu Museum HOS Tjokroaminoto. (RESA/RADAR SURABAYA)
Bagian dalam ruang tamu Museum HOS Tjokroaminoto. (RESA/RADAR SURABAYA)

Ia mendirikan Sarikat Islam (SI) pada 1911 sebagai cikal bakal organisasi keagamaan dan perdagangan di Indonesia. Ia dijuluki guru bangsa karena di rumahnya pernah tinggal anak-anak muda yang di kemudian hari menjadi tokoh nasional. Para pemuda itu di antaranya adalah Soekarno, Semaoen, Alimin, Musso, Darsono dan Kartosuwirjo.

Para pemuda ini tinggal indekos di rumah Pak Tjokro –sapaannya-- karena menempuh pendidikan setingkat SMP dan SMA di Surabaya. Untuk diketahui, dulu di Surabaya berdiri sekolah lanjutan tingkat menengah yakni Hoogere Burger School (HBS). Lokasinya di Jalan Kebon Rojo atau Regenstraat yang kini menjadi Kantor Pos Besar Surabaya.

Kepada para pemuda inilah, Pak Tjokro menanamkan nilai-nilai kebangsaan, perjuangan, dan karakter nasionalis agamis lewat jargon setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid dan sepandai-pandai siasat.

Plafon di rumah HOS Tjokroaminoto yang dulu dipakai kamar kos beberapa pemuda selain rumah besar di belakang rumahnya yang kini sudah jadi rumah penduduk setempat. (RESA/RADAR SURABAYA)
Plafon di rumah HOS Tjokroaminoto yang dulu dipakai kamar kos beberapa pemuda selain rumah besar di belakang rumahnya yang kini sudah jadi rumah penduduk setempat. (RESA/RADAR SURABAYA)

Di dalam Museum HOS Tjokroaminoto ini terdapat foto-foto dan dokumen kegiatan Pak Tjokro semasa hidup yang dilengkapi dengan penjelasan dari setiap benda yang ada. Ada pula kamar tidur Pak Tjokro serta penampakan replika tempat kos yang dimilikinya.

Replika tempat kos itu berupa ruangan beralas papan kayu di atas plafon atau loteng rumah. Luasnya sekitar 8x5 meter dan hanya memuat tiga tikar anyaman bambu untuk alas tidur dengan masing-masing dilengkapi meja berlaci. Di ujung utara digantungkan sebuah kaca rias.

Replika alas tidur tempat kos Soekarno dengan meja laci kecil yang ada di plafon rumah Museum HOS Tjokroaminoto. (RESA/RADAR SURABAYA)
Replika alas tidur tempat kos Soekarno dengan meja laci kecil yang ada di plafon rumah Museum HOS Tjokroaminoto. (RESA/RADAR SURABAYA)

Kornelius Harrys selaku pemandu (guide) di Museum HOS Tjokroaminoto mengatakan, "Tembok bangunan ini satu-satunya yang masih original dan tidak diubah, hanya ada perbaikan sedikit," tuturnya. “Kalau lantai dan atap dari tempat ini sudah tidak original, tapi mengusahakan sama seperti pada aslinya" imbuhnya.

Sebelum diambil oleh pemerintah kota dan dijadikan museum, ternyata rumah tua bercat putih dengan pagar kayu berwarna hijau ini sudah dibuka untuk umum. Namun menurut Kornelius, untuk penataan ruangan dan kelengkapan barang peninggalan tak serapi dan sebanyak sekarang.

"Barang-barang yang ada di museum ini kami dapatkan dari kolektor. Barang yang ada juga bukan asli sebagaimana peninggalan dari Pak Tjokro. Barang yang ada di sini beberapa hanya sebagai pemanis ruangan," tuturnya.

Museum Rumah Lahir Bung Karno di Jalan Pandean gang IV Surabaya. (RESA/RADAR SURABAYA)
Museum Rumah Lahir Bung Karno di Jalan Pandean gang IV Surabaya. (RESA/RADAR SURABAYA)

Museum kedua di kawasan Peneleh adalah Museum Rumah Lahir Bung Karno. Museum ini berada di Jalan Pandean gang IV Surabaya. Museum ini baru saja diresmikan pada 6 Mei 2023 lalu oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Berbeda dengan Musem HOS Tjokroaminoto, Museum Rumah Lahir Bung Karno ini dikemas lebih modern. Salah satunya dengan penyematan teknologi AR (Augmented Reality) dan tampilan audio visual yang lebih hidup.

Museum ini antara lain menyajikan silsilah keluarga sang Proklamator, Ir Soekarno. Ada pula biografi singkat dan juga cerita tentang kronologi perjalanan hidup tokoh nasional bernama asli Koesno ini. Pendirian museum ini seakan menjawab anggapan banyak orang selama ini yang hanya tahu bahwa Bung Karno adalah warga asli Blitar.

Photo
Photo

Seperti disampaikan oleh Ramadhany Firmansyah, guide di Museum Rumah Lahir Bung Karno. “Museum ini didirikan karena Pak Soekarno pernah berkata jika beliau lahir di Surabaya, tapi beliau lupa tepatnya dimana," jelasnya.

Hal itulah yang membuat Pemerintah Kota Surabaya bersama beberapa peneliti sejarah kemudian mengulik tempat lahir Soekarno sebenarnya hingga kemudian menemukan dan menjadikannya sebagai museum. 

Photo
Photo

Berbeda dari museum yang lain, penyajian museum ini dibuat sangat menarik dengan adanya lampu yang dipancarkan untuk membantu pengunjung memahami silsilah keluarga Bung Karno. Tak hanya itu, di dalam museum juga menyediakan ruangan interaktif dimana pengunjung bisa menyaksikan video tentang Soekarno dengan bantuan fitur augmented reality (AR).

"Pemilihan penyajian seperti ini karena memang kita fokus hanya untuk mengenalkan silsilah keluarga Soekarno di museum ini. Karena pada kenyataanya, keluarga Soekarno dahulu hanya sebagai pengontrak di sini dan tidak meninggalkan barang apapun saat pindah meninggalkan Surabaya (ke Mojokerto)," ucap pria yang kerap disapa Danny itu. (mg2/res/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#peneleh #museum HOS Tjokroaminoto #heritage #rumah lahir bung karno