SURABAYA - Selain melakukan penataan Pasar Keputran, Satpol PP Surabaya juga melakukan operasi yustisi. Hasilnya, ditemukan dua lansia yang tinggal di area pasar.
Kepala Satpol PP Surabaya M Fikser mengatakan, operasi yustisi menyasar orang-orang yang bertempat tinggal di dalam Pasar Keputran. Sebab, selama ini disinyalir pasar juga digunakan sebagai tempat tinggal gelandangan dan pengemis (gepeng).
"Waktu kami sisir ada lansia tinggal di pasar. Dalam dua hari ini ada tiga orang. Yang pertama ada satu orang dan kedua ada dua orang," kata Fikser, Kamis (24/8).
Lansia hasil penyaringan tersebut langsung dikirim ke Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Keputih untuk dipulangkan ke daerah asal. "Mereka yang terjaring warga luar Surabaya. Jadi, mereka kami pulangkan ke daerah asal," terangnya.
Pihaknya juga memberikan rasa nyaman kepada pedagang dan pengunjung Pasar Keputran. Yakni, dengan melakukan tindakan tegas terhadap kendaraan yang melakukan bongkar muat liar di sepanjang Jalan Keputran.
Fikser mengungkapkan, kendaraan yang melakukan bongkar muat liar itu biasanya yang memasok barang dagangan kepada PKL di jalur pedestrian. Akibatnya, kawasan itu jadi semrawut. “Bekas-bekas dari bongkar muat itu yang bikin kotor,” katanya.
Untuk membuat wajah Pasar Keputran lebih apik, Pemkot Surabaya juga melakukan pengecatan. Termasuk membenahi lampu-lampu di dalam pasar yang sudah rusak. "Kita juga melakukan penertiban stan-stan di dalam pasar. Stan yang digunakan untuk tempat tidur itu kita tata," ungkapnya.
Perapian juga dilakukan di luar Pasar Keputran. Seperti membersihkan saluran serta merapikan jalur pedestrian dan halaman yang ada di depan Pasar Keputran. "Halaman depan pasar selama ini tidak bisa maksimal untuk bongkar muat. Jadi, kita kembalikan fungsi jalur pedestrian depan pasar agar lebih luas," ungkapnya.
Selain itu, menurut Fikser, satpol juga fokus pada penataan parkir. Termasuk menertibkan jukir-jukir liar. “Biar pembeli bisa datang dan parkir lebih nyaman," pungkasnya. (rmt/rek)
Editor : Jay Wijayanto