Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

NINGYŌ: Art and Beauty of Japanese Dolls Boneka Jepang, Bagian dari Sejarah dan Budaya

Fajar Yuliyanto • Kamis, 24 Agustus 2023 | 22:08 WIB
PUNYA NILAI HISTORIS: Pengunjung mengamati sejumlah boneka yang dipamerkan dalam Pameran Boneka Jepang di ITS Surabaya, Rabu (23/8). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
PUNYA NILAI HISTORIS: Pengunjung mengamati sejumlah boneka yang dipamerkan dalam Pameran Boneka Jepang di ITS Surabaya, Rabu (23/8). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Sebanyak 67 karya boneka Jepang ditampilkan dalam pameran bertajuk NINGYŌ: Art and Beauty of Japanese Dolls di Departemen Desain Produk, Fakultas Kreatif dan Bisnis Digital Institusi Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS).

Koordinator Penjaga Pameran Ningyo, Awwaludin Ikhsan Nurdiansyah mengatakan, ini salah satu bentuk kolaborasi dari Jepang dan Indonesia. "Tujuannya untuk memperkenalkan budaya Jepang ke masyarakat dan mahasiswa di sini," kata Awwaludin, Rabu (23/8).

Ningyō, sendiri dalam bahasa Jepang berarti boneka. Secara harfiah, Ningyō berarti suatu benda yang berbentuk seperti manusia. Awwaludin menuturkan, pameran ini memaparkan macam-macam jenis boneka Jepang melalui empat babak. Yakni boneka sebagai doa bagi kesehatan anak, boneka sebagai sebuah karya seni, boneka sebagai bagian dari kesenian masyarakat, dan penyebaran kebudayaan boneka di Jepang.

“Jadi budaya boneka di Jepang bermula dari ritual-ritual pengusiran roh jahat yang telah dilakukan secara turun-temurun. Dari sanalah muncul boneka-boneka yang digunakan untuk mendoakan pertumbuhan anak agar sehat saat menjelang pergantian musim, atau disebut Sekku Ningyō, yang salah satu contohnya adalah Hina Ningyō,” jelasnya.

ADA FILOSOFINYA: budaya boneka di Jepang bermula dari ritual-ritual pengusiran roh jahat yang dilakukan secara turun-temurun.
ADA FILOSOFINYA: budaya boneka di Jepang bermula dari ritual-ritual pengusiran roh jahat yang dilakukan secara turun-temurun.

Kemudian pada abad ke-17, bersamaan dengan berkembangnya teknik kerajinan, boneka dengan pengerjaan yang lebih rumit mulai dinikmati sebagai karya seni. Selain itu, muncul kebudayaan boneka berdasarkan iklim dan cerita rakyat pada tiap-tiap daerah, yang mencerminkan kekhasan daerah tersebut, seperti Kokeshi dan Daruma.

Boneka-boneka menjadi cinderamata dan hadiah, serta digemari masyarakat secara luas. Hingga saat ini, berbagai boneka Jepang disukai oleh masyarakat luas secara global.

“Contohnya seperti Jooruri yang digunakan dalam seni pertunjukan, boneka dress-up yang dimainkan anak kecil, hingga figur karakter anime atau manga,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital (Creabiz) Ellya Zulaikha menjelaskan, kegiatan ini juga untuk mengapresiasi budaya Jepang karena sesama bangsa Asia. Karena banyak kesamaan antara Indonesia dan Jepang. Kalau Jepang memiliki nilai-nilai kebijaksanaan yang itu muncul dalam artefak boneka. “Sementara Indonesia juga punya mulai dari wayang, boneka rumput dan sebenarnya Indonesia juga punya seperti itu,” terangnya. (jar/nur)

Editor : Jay Wijayanto
#its surabaya #sejarah budaya indonesia #boneka jepang