SURABAYA – Museum Pendidikan Surabaya yang diresmikan Wali Kota Tri Rismaharini pada 25 November 2019 menjadi sarana pembelajaran tentang sejarah dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan bagi masyarakat.
Museum yang berlokasi di Jalan Gentengkali No. 10 ini menyimpan 800 koleksi bersejarah untuk mengenang dunia pendidikan di masa lampau. Mulai dari masa prasejarah hingga setelah kemerdekaan Republik Indonesia.
Nanda Azkia selaku guide di Museum Pendidikan Surabaya mengatakan bahwa barang-barang koleksi didapatkan dari berbagai sumber. Selain melalui kolektor yang ada di Surabaya, juga dari hibah beberapa sekolah seperti SMK 8 Surabaya, SMA Trimurti, UK Petra dan lain-lain.
“Nggak susah mendapatkan koleksi Museum Pendidikan ini, karena masyarakat banyak yang menyimpan benda-benda yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Bahkan, mereka juga merawatnya sehingga kami sangat terbantu untuk koleksinya,” katanya.
Dari ratusan benda koleksi Museum Pendidikan Surabaya tersebut, berikut ini 8 jenis benda yang akan benar-benar membawa kembali nostalgia tentang dunia pendidikan di masa lampau:
1. Alat Tulis
Alat tulis yang ada di museum ini merupakan alat tulis tradisional yang digunakan sebelum hadirnya pena dan buku tulis. Seperti sabak bingkai sebagai alat untuk menuangkan tulisan atau gambar, doos grip tempat pensil, grip pensil untuk menulis, tinta bolpoin, jangka besi, gunting lipat, penggaris hingga busur plastik. Ada juga pena parker, suryakanta kayu, geretan badut, kapur, penghapus karet, sempoa dan masih banyak lagi.
Ini menggambarkan perkembangan alat tulis tradisional dari masa ke masa yang digunakan sebelum pena dan pensil ditemukan. Ini mengingatkan kembali akan perjuangan dalam dunia pendidikan sebelum hadirnya teknologi.
2. Modul
Modul atau buku bacaan yang biasanya digunakan untuk alat bantu proses pembelajaran pada masanya ditulis tangan. Modul ini mengingatkan akan pendidikan zaman dulu yang menjadikan modul atau buku sebagai dalam pembelajaran.
3. Proyektor OHP (Overhead Projector)
Sebagai alat bantu pengajaran klasik, proyektor OHP digunakan untuk memproyeksikan gambar dari transparansi ke permukaan yang lebih besar. Alat ini telah menjadi bagian penting dari metode pengajaran di sekolah sejak dulu sebelum digantikan teknologi digital.
4. Mesin ketik
Mesin ketik adalah alat bantu utama dalam pembelajaran sebelum adanya teknologi seperti komputer atau laptop saat ini.
5. Fotografi dan dokumen bersejarah
Museum ini juga menyimpan koleksi fotografi dan dokumen bersejarah seperti foto-foto kelas zaman dulu, ijazah/sertifikat pendidikan, dan buku rapor dari masa ke masa. Dokumen-dokumen ini membantu untuk memahami bagaimana sistem pendidikan telah berkembang seiring berjalannya waktu.
6. Piala
Piala sebagai bentuk aprisiasi yang diberikan kepada siswa jika memiliki nilai atau pencapaian tertentu. Salah satu koleksi museum ini adalah piala dari sekolah Taman Siswa pasca kemerdekaan.
7. Tas sekolah dan map kulit
Tas koper merek Presiden warna hitam, map kulit, topi dan map rapor menjadi salah satu atribut yang digunakan sebagai perlengkapan sekolah siswa zaman dulu
8. Alat bantu pembelajaran
Alat bantu pembelajaran yang dipajang di museum ini ada kamera, peralatan laboratorium, dan keramik untuk peraga tata boga yang sering digunakan untuk kegiatan praktikum sekolah pada zaman dulu.
Nanda Azkia menyampaikan bahwa keberadaan Museum Pendidikan telah menarik antusiasme yang tinggi dari masyarakat Indonesia hingga ke luar negeri. Beberapa pengunjung mancanegara seperti Perancis, Inggris, Jerman, Singapura, Malaysia dan beberapa negara lain pernah mengunjungi museum tematik ini.
Menurut Nanda Azkia, dalam sehari pengunjung bisa mencapai 400 orang yang umumnya dari warga lokal dan luar kota. Sedangkan tamu asing walapun jarang namun setiap hari selalu ada yang berkunjung.
Salah satu pengunjung, Mauri Devy, warga Surabaya mengatakan, alasan dia mengunjungi Museum Pendidikan karena dirinya sangat tertarik dengan ilmu budaya. “Museum Pendidikan ini menjadi tempat pertama kali yang saya kunjungi untuk belajar sejarah yang ada di Indonesia,” kata mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan doktor di University of Caen Normandy, Perancis ini. Ia berkunjung bersama pacarnya dari Perancis. (mg2/res/jay)
Editor : Jay Wijayanto