Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Revitalisasi Makam Eropa untuk Mantapkan Wisata Heritage di Peneleh

Rahmat Sudrajat • Selasa, 22 Agustus 2023 | 22:02 WIB
KURANG TERAWAT: Deretan pusara kuburan tua peninggalan Hindia Belanda di Makam Peneleh, Surabaya, Senin (21/8). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)
KURANG TERAWAT: Deretan pusara kuburan tua peninggalan Hindia Belanda di Makam Peneleh, Surabaya, Senin (21/8). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Makam Peneleh yang mayoritas menjadi tempat persemayaman jenazah warga Eropa pada masa Hindia Belanda akan segera direvitalisasi. Ini berkaitan dengan pengembangan wisata heritage di Kampung Peneleh oleh Pemkot Surabaya.

Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya bersama komunitas pencinta sejarah telah melakukan pendataan makam atau prapemugaran. "Kita masih matangkan dulu konsepnya dan eksekusinya seperti apa," kata Kepala Disbudporapar Surabaya, Wiwiek Widayati.

Menurut dia, revitalisasi itu tidak hanya melihat dari satu sisi saja, tapi bagian dari pengembangan destinasi di Kampung Peneleh. "Itu bagian dari pengembangan destinasi Kampung Peneleh. Saat ini kami sedang lakukan pendataan makam-makam yang ada," terangnya.

Ia memastikan pemugaran tersebut segera dilakukan dilakukan mengingat kawasan Peneleh sudah ditetapkan menjadi kampung wisata sejarah. Sejumlah kalangan menyebut Peneleh sebagai situs kebangsaan. Salah satunyaterdapat rumah pahlawan nasional HOS Tjokroaminoto yang menjadi tempat kos Bung Karno saat menimba ilmu di HBS Surabaya.

Menurut dia, puncak ilmu kebangsaan dan politik itu ada di Surabaya dari pemikiran HOS Tjokroaminoto. Sebagai generasi penerus, anak-anak muda harus memiliki semangat dan spirit seperti Bung Karno dan HOS Tjokroaminoto. "Secepatnya kita realisasikan," ujar Wiwiek.

HERITAGE: Rumah pahlawan nasional HOS Tjokroaminoto di Peneleh VII/29-31 yang pernah menjadi tempat kos Bung Karno dan beberapa tokoh pergerakan nasional lain. (ISTIMEWA)
HERITAGE: Rumah pahlawan nasional HOS Tjokroaminoto di Peneleh VII/29-31 yang pernah menjadi tempat kos Bung Karno dan beberapa tokoh pergerakan nasional lain. (ISTIMEWA)

Sementara itu, pegiat sejarah dari Begandring Soerabaia Kuncarsono Prasetyo mengatakan, pihaknya telah melakukan kajian tipologi dan historiografi terhadap makam-makam Belanda di Peneleh. "Hasil kajian itu sebagai pedoman dalam revitalisasi makam yang rencananya akan dipugar dan dijadikan destinasi wisata," kata Kuncar.

Makam Belanda Peneleh boleh dibilang menjadi sebuah kompleks prasasti sejarah. Pada era tertentu, di masa kolonial, tepatnya mulai 1847 hingga 1947, hampir selama 100 tahun, lahan di kawasan Peneleh ini melayani pemakaman warga Eropa. Ada orang Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia.

Beragam kebangsaan ini terlihat dari nama-nama serta bahasa yang dipakai sebagai deskripsi dan inkripsi pada nisan. Ada yang terbuat dari batu pualam dan ada pula yang dibuat dari besi baja.

Area pemakaman dengan luas sekitar 4,5 hektare hanya sebagian kecil dari sejumlah makam yang masih relatif utuh. Selebihnya, pada umumnya sudah rusak. Kerusakan kerusakan itu terlihat pada badan makam yang telah berlubang, batu marmer nisan banyak yang hilang.

Terutama pada bidang makam sisi selatan, pagar pagar indah setiap makam yang terbuat dari besi baja umumnya sudah hilang, sebagian nisan marmer yang masih ada juga sudah pecah.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Surabaya Dr Retno Hastijanti mengatakan, rencana revitalisasi kawasan heritage Peneleh pernah menyeruak pada 2007-2008, namun gagal terlaksana.

“Pemkot Surabaya saat itu rencananya kerja sama dengan Kerajaan Belanda. Belanda bersedia membantu finansial, namun harus ada pendataan dan perencanaan yang detail,” kata Retno. (rmt/rek)

Editor : Jay Wijayanto
#makam peneleh #Disbudporapar #Kampung Peneleh #bung karno #pemkot surabaya #hos cokroaminoto