SURABAYA - Jalan Tunjungan merupakan jalan protokol di Surabaya yang sudah menjadi destinasi wisata sejak dulu. Kawasan penanda modernisasi Kota Pahlawan ini telah menjadi ikon Kota Surabaya sejak dulu sebagai pusat pergaulan anak muda dengan deretan pertokoan modern yang digambarkan dengan manis lewat lagu nostalgia Mlaku-Mlaku nang Tunjungan oleh musisi Mus Mulyadi.
Jalan ini juga mempunya nilai sejarah dan budaya yang penting bagi Kota Surabaya. Di sepanjang jalan ini, terdapat berbagai toko, restoran, dan pusat perbelanjaan terkenal seperti Toko Nam, Siola dan lain lain.
Maka dari itu banyak orang yang memanfaatkan keapikan Jalan Tunjungan sebagai wadah mereka untuk mencari uang dengan salah satunya menjual jasa fotografer.
Pada awalnya Jalan Tunjungan menjadi sebuah tempat bagi para fotografer untuk meluapkan hobi, mereka sering menghabiskan waktu di Jalan Tunjungan untuk memotret para pengunjung dan bangunan tua dengan spot yang bagus serta ikonik.
Pada saat pandemi Covid-19 melanda, sebagian dari mereka (fotografer) yang kehilangan pekerjaan dan membuat mereka memutar ide untuk membuka jasa fotografer di jalan tersebut.
Romeo, salah satu penyedia jasa fotografi di Jalan Tunjungan menuturkan, di Jalan Tunjungan itu seperti aliran air yang tidak kunjung berhenti, setiap harinya pengunjung yang datang selalu ramai dikarenakan banyaknya tempat hiburan.
“Sehingga menjadi kesempatan bagi kita, yaitu para jasa fotografer untuk mencari pelanggan. Kita menawarkan jasa kita dengan patokan harga mulai dari Rp 2.000 per-foto dan paket harga lainnya,” jelasnya.
Para fotografer di sana tidak memiliki sasaran pasti dalam mencari target (semua kalangan), maka dari itu semua pengunjung di Jalan Tunjungan adalah sasaran pelanggan bagi mereka.
Dalam mengatasi hal ini, mereka membuat grup dan membagi setiap anggota-anggota ke titik wilayah yang ramai oleh para pengunjung dengan maksud, memaksimalkan peluang mereka untuk mendapatkan pelanggan.
Terdapat banyak spot foto yang selalu diminta oleh para pelanggan di sana. Yaitu, kumpulan bangunan bersejarah seperti Hotel Majapahit, Gedung Siola, hingga ornamen lampu hias yang menyala di sepanjang Jalan Tunjungan. (mag/nur)
Editor : Jay Wijayanto