Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kemdikbudristek Akui Kecerdasana Buatan Jadi Tantangan Pelajar Ke Depan

Mus Purmadani • Sabtu, 19 Agustus 2023 | 03:10 WIB

SERTIFIKAT SISWA: Kepala Dispendik Provinsi Jatim, Aries Agung Paewai, menyerahkan sertifikat uji kompetensi siswa bertaraf nasional, di kantor Dinas Pendidikan Jatim, Kamis (17/8).
SERTIFIKAT SISWA: Kepala Dispendik Provinsi Jatim, Aries Agung Paewai, menyerahkan sertifikat uji kompetensi siswa bertaraf nasional, di kantor Dinas Pendidikan Jatim, Kamis (17/8).

SURABAYA - Sebanyak 72 siswa SMA dan SMK di Jawa Timur menerima sertifikat kompetensi dari Lembaga  Sertifikasi Kompetensi (LSK) yang digelar Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim.

Menariknya, sertifikasi yang diperoleh para siswa ini telah bertaraf nasional sesuai Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) tahun 2023. Sehingga diharapkan usai lulus, siswa bisa menunjukkan kualitas dan kompetensinya untuk persaingan di Industri, Dunia Usaha Dunia Kerja (IDUKA).

“Lulusan SMK, SMA dan MA, selain memiliki ijazah juga harus punya sertifikasi kompetensi sesuai kemampuan yang dimiliki siswa. Jika berdasarkan data, lulusan SMK rata-rata bekerja dan sebagian melanjutkan ke perguruan tinggi. Sisanya, banyak juga yang masih belum mendapatkan pekerjaan. Karena itu sertifikasi kompetensi anak SMK ini sangat penting untuk masuk IDUKA,” ujar Ditjen Vokasi Kemdikbudristek Wartanto usai penyerahan sertifikasi di kantor Dinas Pendidikan Jawa Timur, Kamis (17/8) sore.

Wartanto menambahkan selain untuk bekerja, sejak setahun terakhir sertifikat kompetensi juga bisa digunakan untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui program Rekognisi Pendidikan Lampau (RPL).

Program ini diterapkan di 26 PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia. Dengan kata lain, sertifikat kompetensi yang dimiliki siswa setara dengan satuan kredit semester (SKS). “Jadi (sertifikat) ini sangat strategis. Anak-anak SMK kedepan (siap bersaing) sesuai kompetensi yang dibutuhkan industri,” katanya.

Lebih lanjut Wartanto mengatakan adanya sertifikasi juga menyiapkan siswa dalam menghadapi tantangan kedepan yang semakin berat. Diantaranya, tantangan digitalisasi.

Menurutnya, hampir semua bisnis diambil alih digitalisasi. Kedua, otomatisasi dan terakhir otak buatan atau Artificial Intellegence (AI).

Ini sudah terlihat pada perang Rusia dan Ukraina yang menggunakan AI seperti pesawat tanpa awak. Di Jepang dan Belanda sudah ada robot yang sangat menyerupai manusia.

“Indonesia, kalau anak-anak kita tidak disiapkan ke arah ini akan kalah. Jadi sertifikasi siswa ini sangat diperlukan untuk menyiapkan persaingan di IDUKA,” tegasnya. 

Sementara itu, Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai menuturkan sertifikasi kompetensi siswa ini diinisiasi oleh Dindik Jatim bersama Kemdikbudristek untuk memberikan wadah bagi siswa. Agar kedepan, mereka siap menghadapi tantangan yang semakin berat. 

“Kita mewadahi (pelatihan kompetensi) di tingkat SMA/SMK.  Tentu tidak bisa semua ikut, karena terbatas kuota. Diharapkan dengan inisiasi dan berbagai kompetensi dan pengembangan yang disiapkan oleh tempat uji kompetensi (TUK) di 9 bidang keahlian diharapkan bisa menyiapkan siswa dibidang dunia kerja maupun wirausaha,” terangnya. 

Aries juga menyebut sertifikat yang diterima siswa sudah berstandar nasional dan international. Artinya, di mana pun perusahaannya dengan berbekal sertifikat yang diterima dari LSK maka bisa memberi peluang besar untuk bisa bekerja.

“Kita punya lulusan 4 juta, lowongan kerja hanya 1 juta sekian. Maka butuh kompetensi mandiri. Sehingga sertifikat kompetensi yang terafiliasi ini dapat memberi kesempatan kepada siswa agar tidak perlu cemas soal pekerjaan lagi. Terus kembangkan kompetensi melalui sertifikasi,” pungkasnya.  (mus)

Editor : Jay Wijayanto
#Sertifikasi Kompetensi #pelajar #AI #kecerdasan buatan #Dinas Pendidikan Jatim #Kemdikbudristek