Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mayjen HR Muhammad Mangoendiprodjo, Tokoh Kunci Perang 10 November yang Tak Dilupakan Jasanya

Guntur Irianto • Jumat, 18 Agustus 2023 | 21:55 WIB
HR Muhammad Mangoendiprodjo (ISTIMEWA)
HR Muhammad Mangoendiprodjo (ISTIMEWA)

SURABAYA - Tak banyak masyarakat Surabaya yang tahu jasa besar Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Haji Raden (HR) Muhammad Mangoendiprodjo, atau yang akrab disebut HR Muhammad. Tokoh kelahiran Sragen, Jawa Tengah, itu ditetapkan sebagai pahlawan di era Presiden Joko Widodo pada 14 November 2017.

Jauh sebelumnya, pahlawan nasional ini telah diabadikan namanya di salah satu jalan protokol di Surabaya berkat jasanya saat perang 10 November 1945 yang pecah di Surabaya. Perang singkat itu menyebabkan Brigjen AWS Mallaby, pimpinan pasukan sekutu AFNEI, tewas di medan laga.

HR Muhammad yang kala itu ditunjuk sebagai pemimpin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Divisi Jawa Timur sempat disandera ketika bernegosiasi dengan sekutu di dalam Gedung Internatio di dekat Jembatan Merah.

Hal ini membuat ratusan pemuda yang sudah mengepung gedung tersebut berontak. Hingga terjadi peperangan di lokasi ini hingga ke Jembatan Merah. Perang singkat yang berawal dari keributan dan salah paham ini membuat Jenderal Mallaby tewas dilempar granat oleh Hasan, laskar Hizbullah dari Ponpes Tebu Ireng Jombang.

HR Muhammad kemudian berhasil dibebaskan dan kembali memimpin pasukan TKR serta arek Suroboyo untuk melawan sekutu bersama Bung Tomo dan tokoh lainnya pada peristiwa perang di Surabaya yang menjadi cikal ditetapkannya Hari Pahlawan pada 10 November 1945.

"HR Muhammad ini salah satu tokoh kunci yang jasanya tak nampak di permukaan," kata pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan.

Ia menceritakan, ada kisah lain terkait jasa pahlawan nasional yang sebagian peninggalan pribadinya telah disimpan di Museum Tugu Pahlawan ini.

Setelah perang yang menewaskan Mallaby, HR Muhammad bersama temannya Hario Kecil mengambil alih aset Belanda berupa uang di Escompto Bank di Jalan Kembang Jepun yang sekarang gedungnya dijadikan kantor Bank Mandiri.

Uang tersebut kemudian digunakannya untuk mendanai perang di Surabaya, membeli obat-obatan, dan bahan makanan untuk pejuang. "(Uang) Termasuk untuk biaya Pemerintah Jawa Timur yang kala itu harus berpindah-pindah tempat karena perang," tuturnya. (gun/nur)

Editor : Jay Wijayanto
#Perang 10 November #pahlawan nasional #Pegiat Sejarah Surabaya #indonesia merdeka #sejarah Surabaya