SURABAYA - Coen Boulevard (sekarang Jalan Dr Soetomo) diambil dari nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda yaitu Jan Pieterszoon Coen. Kemudian pasca kemerdekaan salah satu ruas di Darmo Boulevard ini diberi nama Jalan Dr Soetomo.
Nah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada Dr Soetomo atas jasanya dalam perjuangan bangsa. Jalan Dr Soetomo membujur dari timur ke barat. Jalan ini begitu ramai karena berada tak jauh dari pusat kota Surabaya.
Founder Surabaya Heritage Society, Freddy H Istanto mengatakan, Coen Boulevard di zaman penjajahan Belanda tidak boleh diubah, karena merupakan kawasan pemukiman. "Jadi untuk pemukiman. Dahulu kompleks pemukiman tidak boleh diubah menjadi toko atau lainnya," jelas Freddy kepada Radar Surabaya.
Menurut Freddy, karena perkembangan kota di daerah potensial menjadi basis ekonomi seperti di Jalan Darmo, akhirnya bangunan-bangunan rumah tinggal itu menjadi tempat bisnis, seperti restoran, toko-toko dan lain sebagainya. Tapi sisanya masih tetap rumah.
"Memang awalnya di sana untuk pemukiman elit Eropa dan kemudian perkembangan kota membuat beberapa area itu ditingkatkan menjadi kawasan komersial. Ya di daerah Darmo dan sekitarnya," tambahnya.
Untuk saat ini rumah-rumah besar di Jalan Dr Soetomo difungsikan untuk bermacam-macam bisnis, mulai dari kafe, restoran, kantor, karaoke, sampai markas polisi yang melayani pengamanan objek vital (polisi office) yang berjaga di konjen-konjen.
"Dulu di Jalan Dr Soetomo tempat pemukiman elit Eropa tapi sekarang sudah berubah menjadi kawasan bisnis, walau beberapa rumah masih difungsikan sebagai rumah tinggal," tutupnya. (bersambung/jar/nur)
Editor : Jay Wijayanto