Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dilema Era Digital bagi Pedagang Buku di Kampung Ilmu Jalan Semarang, Tantangan sekaligus Peluang

Jay Wijayanto • Rabu, 16 Agustus 2023 | 22:09 WIB
LUMINTU: Suasana Kampung Ilmu di kawasan Jalan Semarang Surabaya yang masih didatangi pembeli buku. (INDHIRA AYU/RADAR SURABAYA)
LUMINTU: Suasana Kampung Ilmu di kawasan Jalan Semarang Surabaya yang masih didatangi pembeli buku. (INDHIRA AYU/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Pedagang buku di Kampung Ilmu Jalan Semarang Surabaya masih eksis hingga saat ini. Saat segala sesuatu beralih ke digital yang membuat perubahan cara berbisnis dan membaca buku, para pedagang buku di Kampung Ilmu menghadapi tantangan sekaligus peluang baru.

Mereka dituntut untuk segera beradaptasi dengan perubahan preferensi pembeli dan penggemar buku yang saat ini cenderung mencari literasi dalam format digital. Bahkan generasi milenial dan Gen-Z kini lebih mengutamakan literasi digital di internet. Ini tentu menjadi tantangan yang tidak mudah. Benarkah demikian?

"Sebenarnya di era digital ini kita lebih diuntungkan. Sebab kalau dulu pembeli hanya dari Surabaya, sekarang lebih meluas bahkan sampai dari luar Jawa," ungkap Ketua Paguyuban PKL Kampung Ilmu, Budi Santoso, saaat ditemui di Jalan Semarang Surabaya, Senin (14/8).

Menurut Budi, jika sebelumnya pelanggan langsung datang ke Kampung Ilmu untuk belanja buku, sejak booming digital membuat penjualan sempat turun karena pembeli yang langsung datang sedikit. Bahkan di masa pandemi lalu, pembeli sempat sepi.

PACKING: Pedagang buku Kampung Ilmu di Jalan Semarang sedang mengemas buku untuk melayani penjualan via online. (INDHIRA AYU/RADAR SURABAYA)
PACKING: Pedagang buku Kampung Ilmu di Jalan Semarang sedang mengemas buku untuk melayani penjualan via online. (INDHIRA AYU/RADAR SURABAYA)

Namun demikian, era digital juga melahirkan peluang baru untuk pemasaran buku. Singkatnya, para pedagang buku di Kampung Ilmu kini justru banyak mengandalkan penjualan dari online. Lewat platform online marketing, pedagang di Kampung Ilmu dapat menjangkau pasar yang lebih luas secara global tanpa batasan geografis.

Kenyamanan berbelanja tanpa batasan waktu dan akses yang mudah terhadap beragam produk memberikan pengalaman yang lebih memuaskan bagi konsumen. Karena itu, beberapa pedagang memilih menutup toko fisiknya dan beralih ke market place. Kalau pun toko buku mereka masih buka di Kampung Ilmu hanya dijadikan alamat, sementara bukunya dijual via online.

Meski demikian, pelan tapi pasti ada kekhawatiran tersendiri dari para pedagang buku di Kampung Ilmu ke depan. Yakni terkait budaya baca buku fisik yang semakin menurun terutama di generasi muda beralih ke buku digital (e-book) dan sumber literasi online lain.

"Kurang kita pahami untuk lima sampai sepuluh tahun mendatang seperti apa, tapi pasti akan berdampak lebih besar pada penjualan (buku) kita karena sekarang anak balita saja sudah dipegangi hape,” ujarnya.

Karena itu, dia berharap ada kerja sama dengan Pemkot Surabaya. “Misalnya ke depan untuk mengisi buku-buku di perpustakaan maupun di sekolahan itu ngambilnya di kita," katanya.

PENDIDIKAN DINI: Seorang anak dan ibunya membeli buku di Kampung Ilmu. Mencintai buku bisa diajarkan sejak dini. (INDHIRA AYU/RADAR SURABAYA)
PENDIDIKAN DINI: Seorang anak dan ibunya membeli buku di Kampung Ilmu. Mencintai buku bisa diajarkan sejak dini. (INDHIRA AYU/RADAR SURABAYA)

Meskipun era digital telah membawa dampak besar dalam berbagai aspek kehidupan, terdapat sebagian orang yang tetap menemukan kebahagiaan dalam membaca buku. Ini diakui oleh Budi Santoso. Menurut dia, masih banyak orang yang suka membaca buku fisik karena memiliki sensasi tersendiri.

Ana Amelia, misalnya. Siswi salah satu SMP negeri di Surabaya ini masih suka membaca buku. Menurut dia, dirinya kurang tertarik dengan buku digital karena masih kurang mampu membawa pembaca terbawa suasana alur ceritanya.

“Beda kalau kita baca buku, kita akan merasa lebih seru membacanya dan bukunya bisa dibawa kemana-mana. Kalau pakai hape selain baterainya cepat habis kalau dipakai terus menerus, orangtua pasti juga akan menegur karena mereka mengira kalau kita main game," ungkapnya.

Selain Ana, ada Khanabi Alwi, mahasiswa PTN asal Surabaya. Ia mengaku senang dengan keberadaan Kampung Ilmu karena bisa memenuhi hobinya untuk membaca buku. "Bagi saya yang suka membaca buku sangat senang dengan tempat ini karena suasananya sejuk, para pedagangnya juga ramah bikin saya senang menghabiskan waktu di sini,” kata mahasiswa yang sering berkunjung ke Kampung Ilmu karena rekomendasi dari dosennya itu.

Bagi mereka, pengalaman membaca buku yang nyata tetap memiliki nilai tak tergantikan dalam dunia yang semakin digital. Kampung Ilmu terus bertahan sebagai tempat bagi para penyuka buku untuk mencari literasi dan inspirasi dari halaman-halaman yang menghidupkan cerita-cerita menarik. (mg1/ind/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#pedagang buku #Kampung Ilmu #buku digital