SURABAYA - Kondisi pascapandemi mendongkrak segala sektor. Salah satunya adalah pelaku fesyen di Surabaya. Desainer mendapat berkah jelang peringatan kemerdekaan. Desainer Gita Orlin mengaku kebanjiran pesanan. Jenisnya didominasi kebaya. Katanya, pesanan yang masuk sudah mencapai 100 potong. "Sudah masuk sejak bulan lalu," ujarnya, Selasa (15/8).
Untuk menuntaskan pesanan itu, dia mengerjakan 15-20 kebaya tiap hari. Permintaan pelanggannya untuk membuat kebaya formal. Tujuannya untuk peringatan saat upacara bendara 17 Agustus. "Kebanyakan untuk momen Agustusan itu. Sisanya ada yang pesan untuk wedding," terangnya.
Modelnya adalah kebaya kutu baru. Itu adalah salah satu jenis kebaya tradisional Indonesia. Jenis kebaya ini kerap dijumpai pada acara resmi. "Orderan datang dari kalangan istri petinggi daerah," ucapnya.
Kebaya kutu baru memiliki ciri khas yang cukup kuat. Salah satunya adalah baju yang pas di badan. Umumnya terdapat hiasan bordir atau sulaman pada bagian lengan, dada, dan leher. "Kebaya kutu baru, tradisional Indonesia. Dan warnanya kebanyakan merah dan putih," beber Gita.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jatim Denny Djoewardi menuturkan hal senada. Katanya, momen kemerdekaan menjadi titik balik perancang busana pascapandemi. Permintaan busana jelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 RI bertujuan untuk mengembangkan potensi dunia fesyen. "Sekaligus mendorong perkembangan industri kreatif di Jatim," urainya.
Denny menyebutkan, pesanan yang mulai masif memberi dampak positif. Yaitu, pemulihan dan kebangkitan ekonomi di Jatim. Karena sektor fesyen pun memiliki multipliereffect dengan industri lainnya.
“Kita pun harus semakin giat dalam mempromosikan, memperkenalkan, dan semakin bangga mengenakan brand-brand anak negeri,” imbuhnya. (hil/nur)
Editor : Jay Wijayanto