SURABAYA - Tren model sepatu terus bermunculan di Indonesia. Mulai dari sporty, elegan, hingga kasual. Tapi, belakangan ini tengah populer sepatu bergaya klasik. Michael Kienzy selaku Senior Marcomm Manager salah satu perusahaan retail fashion mengatakan, style sepatu terus mengalami perputaran. Belakangan ini banyak anak muda mengaplikasikan style era 1990-an. Dia menyebutnya sebagai vintage style.
"Celana ukuran besar atau gombrong mulai digemari lagi dan disesuaikan dengan sepatu yang memiliki dimensi besar," ujarnya, Kamis (10/8).
Untuk menjawab tren itu, dia merekomendasikan sepatu Knu Skool. Siluetnya menyerupai koleksi sebelumnya, yaitu Old Skool. Namun sepatu ini memiliki nuansa klasik yang cukup kuat. "Lidah sepatunya itu lebih tebal," jelasnya.
Sepatu itu menjawab segala subkultur. Michael menyebutkan, koleksinya itu fleksibel. Tak hanya untuk kebutuhan olahraga skateboard atau BMX, bahkan untuk daily lifestyle.
"Masuknya subkultur lifestyle. Karena cocok buat untuk travelling. Nyaman banget," terangnya.
Knu Skool bukan yang pertama mengusung style sepatu gendut. Karena, Michael mengatakan, koleksi ini terinspirasi dari tren sepatu saat itu. Saat itu, tren sepatu bulky tengah digemari. "Sampai saat ini sepatu bulky masih digemari. Karena itu tadi, tren looks sekarang gombrong sangat populer," ungkapnya.
Koleksi ini pertama dikenalkan di Jepang. Tepatnya pada 2015 lalu. Saat itu, peminatnya cukup positif karena brand sepatu ini memiliki ciri khas yang kuat.
"Orang-orang antusias karena berbeda dari seri sebelum-sebelumnya. Dulu bentuknya super gendut, tapi sekarang dibuat lebih mirip seperti seri Old Skool. Setelah berselang lama, arsip-arsip yang dulu dibuka dan diproduksi dengan pembaruan kemudian dirilis khusus black-white di Jakarta. Seketika ludes," bebernya.
Selain koleksi itu, ada sepatu ramah lingkungan. Katanya, bahan-bahan yang digunakan melalui proses recycle. Namanya adalah koleksi VR3. Ini bentuk inovasi di tengah gempuran beragam jenis sepatu yang beredar. Sepatu VR3 memiliki bobot yang lebih ringan. Kendati, Michael menyebutkan, karakteristik sepatunya tetap kuat.
"Alas kakinya dibuat dari 25 persen busa EVA biobased yang sebagian dari tanaman. Outsole mengandung 25 persen karet alami. Sedangkan bahan tekstil mengandung sekitar 40 persen bahan yang dapat diperbarui, didaur ulang, atau regeneratif," imbuh Michael. (hil/nur)
Editor : Jay Wijayanto