SURABAYA - Perkembangan era teknologi berimbas pada segala sektor. Salah satunya adalah pemanfaatan pada sebuah karya seni instalasi. Karya instalasi digital itu mengisahkan tentang Australia.Konsul Jenderal Australia Fionna Hoggart menggelar pameran seni instalasi digital dengan mengusung tema Walking Through a Songline.
Pameran itu mengisahkan tentang budaya penduduk asli Australia. "Kami senang sekali dapat membawa pameran internasional Walking Through a Songline ini ke Surabaya," ujarnya, Rabu (8/9).
Katanya, pameran itu melalui proses yang panjang. Dia menggandeng Museum Nasional Australia bersama Mosster Studio. Mereka bertugas sebagai kurator karya. "Ini merupakan bagian dari pameran yang telah diakui secara internasional Songlines: Melacak Seven Sisters," ucapnya.
Walking Through a Songline mengisahkan kepercayaan pada roh leluhur. Fionna menjelaskan, dalam kepercayaan itu, roh leluhur menciptakan tanah dan segala isinya. Konsep Songlines atau jalur Dreaming sebagai simbol perjalanan leluhur. "Jalur Dreaming digunakan untuk memetakan rute yang diambil oleh roh leluhur saat mereka melakukan perjalanan melintasi daratan," tuturnya.
Pagelaran tahunan itu bagian dari perayaan Pekan NAIDOC (Komite Nasional Hari Aborigin dan Kepulauan, Red). Katanya, event itu diselenggarakan tiap Juli di Australia. Tujuannya untuk merayakan sejarah, budaya, dan pencapaian penduduk asli Australia, Aborigin, dan Selat Torres.
"Pekan NAIDOC menjadi kesempatan untuk mempelajari budaya dan warisan penduduk asli Australia. Karena merupakan budaya tertua dan berkelanjutan di dunia," paparnya.
Pameran seni itu mengajak pengunjung untuk memberikan pengalaman baru. Sekaligus, menemukan perjalanan multisensori dari penduduk asli Australia atas sejarah, budaya, dan pencapaian mereka di masa lampau. Fionna mengucapkan, mereka berkesempatan untuk memperdalam pengetahuan kuno melalui teknologi modern.
Pameran seni instalasi digital ini juga mengajak para pengunjung untuk mengalami perjalanan multisensori dari penduduk asli Australia atas sejarah, budaya dan pencapaian mereka di masa lampau. (hil/nur)
Editor : Jay Wijayanto