SURABAYA - Setelah Jepang memutuskan untuk tidak mengambil langkah apapun, mereka membiarkan aksi pengibaran bendera di gedung sekolah kawasan Coen Boulevard tersebut. Jepang saat itu kondisinya sudah kalah perang, mereka sudah menyerah, moril mereka sudah runtuh.
Bendera merah putih masih berkibar di tempatnya hingga beberapa hari. Lalu para pemuda Dinoyo mengirimkan perwakilan untuk menemui Moehamad Jasin. "Tujuannya mereka untuk menyampaikan jangan sampai Tokubetsu Keisatsu Tai bernasib sama seperti PETA, dilucuti persenjataannya," kata Pegiat Sejarah Surabaya, Achmad Zaki kepada Radar Surabaya.
Lebih lanjut, Zaki menjelaskan, pada tanggal 20 Agustus 1945, pukul 13.00, Inspektur Polisi Tk I Moehamad Jasin mengundang beberapa anggotanya, di antaranya pembantu Inspektur Polisi Tk I Soetarjo, Komandan Polisi Surip, Komandan Polisi Abidin, dan Komandan Polisi Musa.
"Rapat itu membicarakan permintaan para pemuda Dinoyo agar Tokubetsu Kaisatsu Tai menjadi pelopor perjuangan. Bagaimana agar mereka tidak bernasib sama seperti PETA, dilucuti kemudian dikembalikan ke masyarakat," tambah Zaki dari komunitas Begandring Soerabaia ini.
Dari hasil pertemuan yang pertama mereka akan memutuskan jaringan kabel telepon dan menawan para pimpinan Tokubetsu Kaisatsu Tai yang berkewarganegaraan Jepang. Setelah itu gudang senjata akan dibongkar dan seluruh senjata berat akan dibagikan. Disusul keesokan paginya direncanakan akan mengadakan apel pagi dimana Inspektur Polisi Tk 1 Jasin akan mengikrarkan berdirinya Polisi Republik Indonesia. Dilanjutkan dengan upaya penyebarluasan berita Proklamasi Kemerdekaan.
Semua rencana dalam rapat itu bisa terlaksana dengan lancar, telepon diputus, petinggi Jepang Sindokan Takata dan Fuku Sindokan Nishimoto yang menjabat sebagai pimpinan polisi di tawan. Untuk gudang senjata, bukan hanya senjata yang jatuh ke tangan mereka, tetapi juga truk-truk dan kendaraan lapis baja. Semua kendaraan ditulisi Poelisi Repoeblik Indonesia dan dipasang bendera merah putih.
Selasa, tanggal 21 Agustus 1945, apel dilaksanakan dengan dihadiri 250 pasukan di halaman depan sekolah ini. Bendera merah putih yang dikibarkan Nainggolan masih di tempatnya sehingga tidak dilakukan pengibaran ulang.
Inspektur Polisi Tk 1 Moehamad Jasin membacakan Proklamasi Polisi, mereka yang terlahir sebagai pasukan baru bernama Polisi Republik Indonesia melakukan unjuk kekuatan dengan berbaris ke Jalan Tunjungan, berjalan kaki dan dengan panser, mereka meneriakkan pekik Merdeka!. (bersambung/jar/nur)
Editor : Jay Wijayanto