SURABAYA - Budaya pengolahan sampah yang baik sudah terbentuk sejak lama. Hingga membuat kota Surabaya menjadi salah satu kota di Indonesia yang dinilai mampu mengelola sampah dengan baik. Salah satunya melalui program 3R (reduce, reuse, recycle).
Pengamat Lingkungan Wawan Some mengatakan, program itu dinilai telah menjadi landasan utama. Yakni, bentuk upaya pengelolaan sampah secara mandiri oleh masyarakat. Tujuannya untuk mengurangi dan mengambil nilai ekonomis dari sampah. "Sudah sejak 10 tahun lalu Surabaya dianggap mampu melalui program itu," ujarnya.
Prestasi ini menjadikan Surabaya menjadi percontohan. Karena masyarakatnya sukses mengelola sampah. Sehingga dapat menjadi role model negara-negara di Asia Pasifik. "Sekarang semakin berkembang dengan upaya TPS 3R," katanya.
Wawan menyebutkan, Pemkot Surabaya memiliki sembilan TPS 3R. Salah satu yang terbesar adalah TPS 3R TOW. Karena jumlah sampah yang masuk cukup banyak. "Tempat itu memproses pressing untuk sampah plastik botol," ucapnya.
Catatannya, volume sampah tertinggi mencapai 42 ton pada akhir Ramadan lalu. Jumlah itu makin menurun. Saat ini volume sampah sekitar 18 ton. "Rinciannya total sampah anorganik lebih rendah ketimbang sampah organik," imbuhnya.
Bukan hanya pemerintahnya saja, tapi budaya 3R ini juga sudah umum diterapkan masyarakat Kota Pahlawan. Mereka sudah terbiasa memilah sampah sejak di rumah. Mana yang bisa didaur ulang, digunakan kembali, mana yang bisa diolah, dan mana yang harus dibuang. “Jadi pengurangan sampah yang dibuang ke TPA ini masyarakatnya cukup berperan,” pungkasnya. (hil/nur)
Editor : Jay Wijayanto