SURABAYA - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Cak Eri mengungkap bahwa pembangunan Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya di Gunung Anyar merupakan inisiasi dan arahan dari Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia kepada Tri Rismaharini yang waktu itu menjabat sebagai wali kota Surabaya dan kini menjadi Menteri Sosial RI.
Menurut Cak Eri, sapaannya, Pemkot Surabaya mati-matian mempertahankan area mangrove tersebut agar bisa diubah menjadi kebun raya yang bermanfaat bagi warga dan lingkungan.
"Ini tempat dulu berdarah-darah dipertahankan Bu Risma. Sesuai arahan Bu Mega, kami menjalankan mangrove ini bukan hanya tempat mangrove, tapi edukasi dan pariwisata khususnya buat anak muda biar mengenal," katanya.
Eri berharap KRM Surabaya menjadi lokasi wisata dan pusat edukasi bagi masyarakat. Tercatat ada 57 spesies tanaman (flora) dan 28 jenis burung (aves) yang hidup di habitat alam ini.
Eri menambahkan, pihaknya bakal membuka kerja sama dengan pihak lain untuk mengembangkan dan menambah spesies tanaman di KRM Gunung Anyar Surabaya. Apalagi KRM ini tercatat sebagai yang terbesar di Indonesia dengan luasan mencapai 34 hektare.
"Di sini ada 57 spesies (tanaman). Kami membuka kerja sama dengan tempat lain sehingga spesies bisa bertambah lagi," ungkap Cak Eri, sapaannya, Rabu (26/7).
Selain sebagai upaya pelestarian lingkungan, Cak Eri mengatakan bahwa pembangunan Kebun Raya Mangrove Surabaya juga diusahakan sebagai upaya pengentasan kemiskinan bagi warga kota.
Ia mengungkap, seluruh pekerja di KRM Surabaya berasal dari keluarga miskin (gamis). Hal ini bagian dari upaya Pemkot Surabaya untuk mengentaskan kemiskinan di Kota Pahlawan.
"Dengan (menggandeng) BRIN, banyak lahan Pemkot Surabaya bisa digerakkan untuk pangan. Tujuan akhirnya mengurangi kemiskinan warga Kota Surabaya," terangnya.
Sebelumnya Megawati Soekarnoputri meresmikan KRM Surabaya sebagai kawasan wisata mangrove terpadu yang berfungsi untuk meminimalisasi kerusakan alam, menekan polusi, hingga menambah kadar oksigen. Selain sebagai fungsi edukasi, wisata dan peningkatan ekonomi. (rmt/jay)
Editor : Jay Wijayanto