SURABAYA - Pengelolaan sampah di Surabaya menjadi perhatian serius. Pasalnya, sampai saat ini sampah masih berton-ton yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo. Meskipun Pemkot Surabaya mengklaim ada penurunan sampah plastic, namun sampah organik masih mendominasi.
Wakil Ketua DPRD Surabaya A Hermas Thony mendesak agar Pemkot Surabaya serius dalam pengelolaan sampah. Jangan lagi ada penumpukan sampah di lingkungan sekitar. Lebih lagi sampai menggunung melebihi kapasitas di TPA Benowo.
Ia juga mendorong agar pengelolaan sampah di kota sekelas Surabaya harus terus memperhatikan lingkungan. "Diklaim bahwa sampah plastik menurun. Tapi di sisi lain, sampah organik naik berlipat. Harus segera dilakukan langkah terukur dalam pengelolaan sampah ini," kata AH Thony, Selasa (25/7).
Saat ini, setiap hari akan ada 1.600 ton sampah yang dikirim ke TPA Benowo. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengklaim bahwa ada penurunan sampah plastik hingga 2 ton per hari. Salah satunya karena diterapkannya aturan bebas kantung plastik di toko modern dan supermarket. Dari total 1.600 ton sampah di TPA Benowo, 60 persennya adalah sampah organik dan sisa-sisa makanan. Melimpahnya sampah ini akan menjadi masalah serius jika sistem pengelolaannya manual, tidak maksimal dan tidak up date. Jangan heran jika masih ada penumpukan sampah di lingkungan sekitar.
Hingga siang, sampah di TPS tidak segera terangkut. Akibatnya, lingkungan dipertaruhkan karena kotor dan bau. Belum lagi masih ditemukan truk pengangkut sampah yang hanya ditutup terpal. Tidak kedap bau dan jorok melintas di sepanjang jalan hingga menuju TPA Benowo.
Menurut AH Thony, persoalan sampah yang seperti ini mestinya sudah selesai untuk ukuran Surabaya. Meskipun indeks kualitas lingkungan hidup dalam Laporan Pertanggungjawaban wali kota 2022 kemarin dinyatakan baik. "Kenyatannya sampah masih menumpuk di TPA Benowo," katanya.
Ia juga mendesak agar Pemkot Surabaya segera mengkaji dengan serius pengelolaan sampah. Harus dilakukan evaluasi penyebab oversupply sampah di kota ini. Menurutnya, penumpukan sampah itu bukan fenomena biasa. Spirit mitigasi lingkungan harus dilakukan setiap saat. Tidak boleh hanya selesai pada tingkat seremoni publik.
Ia juga mengingatkan Pemkot Surabaya tidak boleh terjebak oleh zona nyaman dan merasa puas dengan penghargaan-penghargaan pusat atas capaian lingkungan di kota ini. Pemkot harus meningkatkan ekspektasi dan target yang jauh lebih baik.
"Pemkot harus punya data yang konkrit akan pengelolaan sampah dan penumpukannya. Harus up to date dan terpercaya berdasarkan hasil identifikasi yang faktual tentang sumber, jenis, volume sampah dengan detail," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Jay Wijayanto