Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pemkot Tambah Bank Sampah Induk dan TPS 3R untuk Atasi Tumpukan Sampah di Surabaya

Rahmat Sudrajat • Senin, 24 Juli 2023 | 21:29 WIB
EKONOMIS: Aktivitas penimbangan sampah di bank sampah kawasan Tegalsari. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)
EKONOMIS: Aktivitas penimbangan sampah di bank sampah kawasan Tegalsari. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Pemkot Surabaya terus bergerak untuk menuntaskan permasalahan sampah warga kota. Salah satunya dengan menambah bank sampah. Saat ini sudah ada 600 bank sampah di berbagai kawasan.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pihaknya akan membentuk bank sampah induk di tingkat kota. Ini diharapkan dapat menggerakkan ekonomi sirkular warga melalui pemilahan dan pengelolaan sampah. "Bank sampah sudah ada di tingkat kelurahan, tapi saya inginnya di tingkat kota juga ada. Jangan sampai warga bingung menjual dan diambil oleh tengkulak," kata Cak Eri, Minggu (23/7).

Nantinya petugas bank sampah RW akan mengambil sampah di rumah tangga yang sudah dipilah. Sampah yang sudah terkumpul di bank sampah RW, lantas dikirim ke kelurahan dan kota. "Jadi, bank sampah tingkat kota yang berhubungan dengan pabrik. Sampah itu punya nilai ekonomi yang besar. Bahkan, sampah saset dipres sudah siap ekspor," terangnya.

Menurut dia, di Surabaya sudah terbentuk ratusan bank sampah di tingkat RW hingga kelurahan. Namun, selama ini sampah yang telah terkumpul dijual secara mandiri. "Harusnya tingkat kota ada. Nanti saya taruh di dinas lingkungan hidup (DLH). Sudah siap tempatnya," kata Cak Eri.

Wali kota menargetkan, bank sampah tingkat kota nanti mampu mengumpulkan minimal lima ton sampah per harinya. "Di Ngagel Timur itu bank sampah induk Surabaya. Cuma tempatnya tidak representatif," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Agus Hebi Djuniantoro.

Selain menambah bank sampah, DLH bakal menambah tempat pembuangan sementara (TPS) reduce, reuse, recycle (3R) di Surabaya. Rencanannya, tahun ini ada empat lokasi, yakni di kawasan Bulak, Warugunung, Tambak Osowilangun, dan Pakal. Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 6,5 miliar. Sedangkan lahannya sekitar 1.000 meter persegi.

"Bangunan dan peralatannya sekitar Rp 4 miliar. Yang Rp 2,5 miliar untuk pemeliharaan, tenaga kerja, operasional, BBM, dan sebagainya. Untuk tenaga kerjanya kita ambil dari keluarga miskin (gamis)," jelas Hebi.

Satu TPS 3R diprediksi mampu mengurangi beban sampah 4-5 ton per hari. Hebi menyebut sudah ada sembilan TPS 3R seperti di Jambangan, Wonorejo, dan Sutorejo. "Cara kerjanya dipilah-pilah. Seperti yang organik, nonorganik hingga daur ulang disendirikan," ujarnya.

Dia menjelaskan, pihaknya akan membangun bank sampah induk. Nantinya bank sampah induk akan memfasilitasi seluruh bank sampah yang ada di Kota Surabaya. "Bank sampah induk bertanggung jawab, dijual ke mana, dengan harga sama, tidak jatuh, tidak terlalu tinggi, dan sebagainya," katanya.

Hebi menambahkan, rencananya bank sampah induk akan dikelola oleh pihak ketiga. Sementara Pemkot Surabaya akan memfasilitasi bank sampah induk bertemu langsung dengan perusahaan pengelola sampah. (rmt/rek)

Editor : Jay Wijayanto
#permasalahan sampah #pemkot surabaya #Bank Sampah