SURABAYA - Pengelolaan sampah di Kota Surabaya masih belum maksimal. Masih banyak pekerjaan rumah terkait pengelolaan sampah ini yang harus dibenahi.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya Aning Rahmawati ketika dihubungi Radar Surabaya, Jumat (21/7).
Menurutnya dalam satu hari, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo menerima 1600 hingga 1800 ton sampah. Dari jumlah itu 70-80 persen sampah organik, sedangkan 20-30 persen sampah anorganik. “Kalau pemerintah hanya fokus pada sampah anorganik berarti penanganannya masih kurang baik,” ujarnya.
Aning mengatakan Kota Surabaya sejak 2022 memiliki program Kampung Zero Waste (kampung nol sampah). Ada 40 kampung yang jadi percontohan.
“Setiap kampung didampingi oleh perwakilan dari Perguruan Tinggi dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya untuk mendapatkan pembinaan terkait pengelolaan sampah,” katanya.
Politisi PKS ini menambahkan program Kampung Zero Waste ini berjalan selama 5 tahun. Setiap tahunnya 40 kampung yang menjadi percontohan ini bergantian.
“Selain itu harus ada 1 kampung yang benar-benar 0 sampah. Sehingga ini bisa dijadikan role model bagi kampung lainnya. Targetnya setiap kampung bisa menangani 100-200 ton sampah per hari. Nah kalau ini berjalan hingga 5 tahun maka 1600-1800 ton sampah ini sudah bisa tertangani. Sayangnya program Kampung Zero Waste yang sudah ada saat ini terbagi kepada program Surabaya Smart City, sehingga berjalan tidak maksimal,” terangnya.
Lebih lanjut anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Surabaya ini mengatakan sebanyak 600 bank sampah yang ada saat ini masih kurang efektif karena menghasilkan pengelolaan sampah hanya 2 ton per harinya.
Maka dari itu ia mendorong dibentuk Bank Sampah Induk dengan konsep Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). “Selain itu juga harus kerjasama dengan bank sampah swasta. Kemudian juga harus ada koperasi dan inovasi alat untuk pengelolaan sampah organik,” katanya.
Aning mengatakan anggaran di DLH untuk pengelolaan sampah di Surabaya anggarannya cukup besar, yakni Rp 568 miliar. Meski demikian, menurutnya, pengelolaan sampah di Surabaya belum maksimal.
“Seharusnya dengan anggaran yang ada kita berharap kinerja keuangan berbanding lurus dengan kemanfaatan, tapi ini belum. Karena pengurangan sampahnya masih belum kelihatan sama sekali,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Aning, penanganan sampah di TPA Benowo juga tidak optimal. Dengan biaya pengangkutan Rp130 miliar per tahun, namun pengambilan sampah sering terlambat. (mus)
Editor : Jay Wijayanto