Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pedagang Pikulan, Lincah Keliling Kampung dengan Sebatang Kayu dan Seutas Tali

Fajar Yuliyanto • Kamis, 20 Juli 2023 | 12:15 WIB
SUDAH JARANG: Pedagang sate Madura yang menjajakan dagangannya dengan pikulan. (ISTIMEWA)
SUDAH JARANG: Pedagang sate Madura yang menjajakan dagangannya dengan pikulan. (ISTIMEWA)

PENGGUNAAN pikulan atau alat pikul sudah ada sejak dahulu kala dari berbagai belahan benua. Cara ini tergolong praktis karena tidak memerlukan banyak alat bantu, yang dibutuhkan hanya sebatang kayu atau bambu dengan seutas tali.

Pegiat Sejarah Surabaya, Nur Setiawan mengatakan, pedagang dengan pikulan ini sudah ada sejak dahulu. Karena di masa lalu para pengguna pikulan biasanya berkeliling kampung dan di pasar.

"Mereka menggunakan cara seperti ini dikarenakan murah dan efisien daripada memakai gerobak. Sebab dahulu roda gerobak terbilang mahal dan membutuhkan perawatan secara intens," kata Wawan, sapaan akrabnya.

Menurut Wawan, dari dokumentasi hitam putih yang diabadikan oleh fotografer Hindia Belanda, memperlihatkan para pedagang yang menjajakan barang dagangannya dengan cara dipikul sangat banyak sekali. Antara lain penjual air, buah, kerai bambu, daging segar, perkakas dapur, soto dan lain sebagainya.

"Mereka biasanya berdagang di pasar, tepi jalan, maupun keliling keluar masuk kampung. Karena dipikul, barang dagangan yang mereka jajakan lebih efisien dan bisa melewati lorong-lorong perkampungan dan melintasi jalan bergelombang bebatuan," tambahnya.

Di masa sekarang pedagang pikulan masih ada tapi tidak banyak seperti dahulu kala. Karena perkembangan zaman dengan adanya teknologi. Misalnya para pedagang pikulan sudah pakai gerobak dan pakai sepeda motor. Sehingga lambat tahun tergeser oleh zaman seperti becak pakai mesin sepeda motor.

Selain itu, pedagang pikulan masih bisa dijumpai di perkampungan dan mereka menjual kue putu sama lontong kupang, namun di pasar hanya jualan tape. "Untuk saat ini pikulan hanya dibuat pajangan di kafe-kafe seperti gaya tempo dulu atau angkringan saja. Tetap dipakai dan hanya dibuat pajangan saja," ungkapnya. (jar/nur)

Editor : Jay Wijayanto
#Surabaya Kota Lama #pedagang pikulan #Surabaya Tempo Dulu