Kepala Sekolah Bilang Pandemi dan Sistem PPDB Jadi Penyebab
SURABAYA - Saat semua sekolah menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), ada satu SMP swasta di Surabaya yang hanya punya dua murid baru. Seperti di SMP Tenggilis Jaya, Surabaya. Satu murid pun telah mengundurkan diri dari sekolah tersebut.
Kepala SMP Tenggilis Jaya Hari Poedjo Irianto mengaku satu murid dari dua yang diterima mengundurkan diri karena tidak ingin bersekolah. "Ada dua siswa tahun ini. Satu tadi mengundurkan diri ibunya datang untuk pamitan bahwa anaknya tidak mau sekolah. Satu lagi hari ini tidak masuk," kata Hari, Selasa (18/7).
Kondisi sekolah tersebut memang terbilang tragis. Pasalnya, dari tahun ke tahun siswa baru tidak mengalami perubahan yang siginifikan. "Tahun lalu juga dua siswa. Sekarang naik kelas VIII," ungkapnya.
Hari menjelaskan, sejak 2019 jumlah siswa di sekolah tersebut mengalami penurunan. Namun sebelum tahun 2019 setiap tahun target siswa selalu tercapai. "Sekarang siswa kelas VII ada dua orang, mengundurkan diri satu. Kelas VIII ada dua orang dan kelas IX ada 12 orang," terangnya.
Menurut dia, pandemi dan sistem PPDB menjadi faktor terbesar penyebab turunnya jumlah murid baru secara signifikan. Banyak masyarakat memilih SMP negeri karena gratis. "Sekarang orang tua kalau disuruh milih menyekolahkan anaknya di negeri gratis atau di swasta, jelas mereka pilih yang mana," kata kepala sekolah sejak tahun 2000 ini.
Di samping itu, hal yang semakin memperparah keadaan adalah sistem pendaftaran SMPN yang tidak bisa melihat pagu secara terbuka. Jadi tidak bisa dilihat secara terbuka berapa pagu yang disediakan.
"Katakanlah sekolah negeri pagunya setiap sekolah 100 di Surabaya ada 63 sekolah, ada pagunya 6.300, lulusannya 15 ribu. Berarti ada banyak yang akan ke sekolah swasta, tetapi ketika sudah ditutup kenapa bisa ditambah lagi kuotanya. Orang negeri juga bingung targetnya 100 kok bisa lebih," terangnya. (rmt/rek)
Editor : Jay Wijayanto