KEBERADAAN saluran air atau drainase (drainage) di Kota Surabaya sudah ada sejak era kolonial Belanda. Diduga pembangunan saluran air tersebut bersamaan dengan pengaspalan jalan di Kota Pahlawan. Pembangunan drainase tersebut bertujuan untuk mencegah banjir di Surabaya.
"Diduga (penataan saluran air) di Surabaya bersamaan dengan pengaspalan jalan di Surabaya tahun 1910-an," ujarnya pegiat sejarah Nur Setiawan kepada Radar Surabaya.
Pria penggagas Komunitas Surabaya Historical ini menambahkan, keberadaan saluran air lama banyak dijumpai di pusat kota Surabaya. Drainase di bawah tanah tersebut bahkan masih ada dan berfungsi hingga sekarang. "Masih banyak, terutama di pusat kota," sebutnya.
Ia menyatakan, di antara drainase peninggalan Belanda berada di Jalan Tunjungan, Embong Malang hingga Jalan Gubernur Suryo. "Gorong-gorong atau drainase Embong Malang melintang dari barat ke timur tembus ke beberapa ruas jalan lainnya yang bermuara di kalimas sisi Simpang," bebernya.
Menurut Nur, gorong-gorong tersebut dapat dilihat dari sisi Taman Prestasi. Pihaknya melanjutkan, pada masa perang 10 November 1945 beberapa gorong-gorong di Surabaya dijadikan tempat sembunyi arek-arek Suroboyo. Bahkan juga jalur evakuasi pasukan.
"Makanya pada pertengahan tahun 1990-an saat dilakukan pembersihan jaringan drainase bawah tanah sempat ditemukan kerangka manusia yang diduga korban perang," pungkasnya. (rus/nur)
Editor : Jay Wijayanto