SURABAYA - Sampai saat ini cakupan BPJS di Surabaya mencapai 99,9 persen. Namun masih banyak warga Surabaya sebagai penerima bantuan iuran jaminan kesehatan (PBI-JK) dinonaktifkan oleh pemerintah pusat, yakni sebanyak 323.516 orang. Saat ini mereka yang tidak aktif menjadi tanggungan Pemkot Surabaya melalui APBD.
Bahkan tanggungan atau utang Pemkot Surabaya yang mencapai Rp 35 miliar ke BPJS saat ini sudah mulai terbayarkan untuk menanggung Universal Health Coverage (UHC) warga Surabaya.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kota Surabaya Hernina Agustin Arifin mengatakan, saat ini iuran setiap bulan sudah dibayarkan Rp 35 miliar untuk iuran jaminan BPJS PBI JK sebanyak 309.362 orang. "Sudah dibayarkan kembali Rp 35 miliar setiap bulan. Kurang 1-2 bulan atau sekitar Rp 70 miliar terhitung sejak Mei, Juni, Juli," kata Hernina, Kamis (13/7).
Pihaknya juga sudah berkoordinasi mengenai tunggakan kepada Pemkot Surabaya. Bahkan ia menyebut tunggakan tersebut tidak mempengaruhi kerja sama Pemkot Surabaya dengan BPJS Kesehatan. "Ya tetap memberikan pelayanan, kan Pemkot Surabaya pasti membayar," ungkapnya.
Sampai Juli 2023, data peserta PBI JK mencapai 309.362 orang sedangkan Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) Pemda sebanyak 889.993 orang. Sedangkan non aktif atas keinginan sendiri mencapai 30.617 orang, pindah luar kota 856 orang. "Kalau yang tidak aktif biasanya tidak domisili Surabaya lagi dan atas permintaan peserta sendiri serta ada yang meninggal dunia," terangnya.
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Surabaya Khusnul Khotimah meminta Pemkot Surabaya untuk segera memastikan betul data-data yang non aktif agar segera mendapatkan UHC.
"Tentu yang tidak aktif peserta PBI JK dialihkan melalui pembiayaan APBD Kota Surabaya. Sehingga perlu segera untuk mendapatkan pendataan agar segera ter-cover," kata Khusnul.
Ia juga meminta BPJS maupun pemkot membuat guiden books yang bisa mudah dibaca masyarakat yang ingin mengetahui cara pengurusan UHC. Tak hanya itu, Khusnul juga meminta pihak BPJS untuk meningkatkan mutu pelayanan dengan membuat call center.
"Dengan cara memasang pamfelt dan call center biar meningkatkan mutu pelayanan," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Jay Wijayanto