SURABAYA - Kasus kriminal pada anak-anak tengah ramai belakangan ini. Aksi mereka pun cukup nekat dan mengerikan. Banyak hal yang menyebabkan perilaku menyimpang mereka.
Praktisi Psikologis Yowanda Destian menjabarkan berbagai aspek yang mendasari itu. Tapi, dia menekankan persoalan utamanya. Yakni, trauma yang dialami anak-anak pada masa pertumbuhannya.
"Betul, trauma itu masuk di salah satu masalah kesehatan mental. Kalau di-breakdown lagi, trauma itu nanti masih ada macamnya lagi," ujarnya, Selasa (11/7).
Fenomena itu membuatnya miris. Karena kasus kriminal itu melibatkan usia muda. Dia menilai perbuatan yang marak terjadi itu sudah sangat menyimpang. "Contohnya yang sering ditemui adalah bullying (perundungan). Dari situ menjalar hingga kasus pembunuhan. Bahkan ada juga pemerkosaan," paparnya.
Wanda sapaannya mengatakan, persoalan itu cukup kompleks. Karena terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi. Sehingga itu mengubah perilaku anak yang mengarah pada kejahatan. "Faktor pengasuhan orang tua itu kunci," jelasnya.
Katanya, orang tua dalam keluarga adalah lingkungan primer anak-anak. Selain itu, lingkungan sebaya, latar belakang sosial ekonomi yang rendah, hingga anak dengan riwayat penggunaan zat adiktif. "Ada satu poin yang mempengaruhi juga adalah anak dengan pengalaman kekerasan," ungkapnya.
Dia mengatakan, terdapat proses belajar yang salah. Sehingga itu menyebabkan terjadinya kasus bullying yang melibatkan kekerasan fisik atau verbal. Selain itu, pelaku bullying tumbuh dalam lingkungan yang serupa. "Contohnya keluarga yang tidak harmonis, penuh konflik fisik atau verbal, dan intimidatif. Pengalaman yang kurang baik itu direkam melalui alam bawah sadar mereka," terangnya.
Menurutnya, anak-anak memendam beragam emosi negatif. Antara lain, marah, sedih, hingga takut. Perasaan yang ditimbulkan itu menjadi pemicu pelaku bullying mengekspresikan diri. "Hanya saja cara mereka menyimpang. Ekspresi emosi negatif itu disampaikan pada lingkungan dimana dia merasa lebih dominan," paparnya.
Wanda menyebutkan ada faktor lain. Yakni, kemudahan anak dan remaja dalam mendapatkan informasi secara daring. Dia menilai, mereka mendapatkan informasi itu tanpa pengawasan dan bimbingan orang tua. Orang tua perlu berperan aktif kembali. "Ini juga penting untuk diperhatikan oleh orang tua," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Yuli Purnomo mengungkapkan hal senada. Menurutnya, pendidikan pertama dan utama bagi anak adalah pada orang tua. Karena dalam kesehariannya bersinggungan langsung.
"Untuk itu perlu ada komunikasi yang baik dalam keluarga. Keterlibatan orang tua dalam mengawal proses pendidikan untuk mencetak para calon generasi emas bangsa yang mampu berkompetisi di era kemajuan zaman yang semakin modern," imbuhnya. (hil/nur)
Editor : Jay Wijayanto