SURABAYA - Arus kendaraan yang melintas ke arah Madura melalui Jembatan Suramadu jauh lebih ramai dari biasanya, Rabu (28/6). Warga Madura yang ada di perantauan memilih untuk toron atau pulang ke kampung halaman saat Idul Adha 1444 Hijriah.
Ribuan masyarakat Madura yang toron ini didominasi kendaraan roda dua. Keramaian arus kendaraan ini sudah terlihat sejak pagi. "Biasanya sanak saudara kalau Idul Adha banyak yang kumpul. Apalagi tahun ini liburnya lama. Pasti lebih ramai," ujar warga Bangkalan yang tinggal di Gresik, Mohammad Husni, kemarin.
Salah seorang pemudik asal Pamekasan, Ali Qomaruddin, menambahkan, mudik alias toron ke kampung halaman saat Idul Adha merupakan tradisi wajib setiap tahun untuk bertemu sanak saudara.
Sekaligus melaksanakan salat Idul Adha bersama dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. "Kami setiap tahun toron nyambung silahturahmi, bertemu keluarga, saudara, maupun tetangga sekitar," kata Ali.
Selain itu, setiap kali pulang kampung menjelang Idul Adha, ada tradisi untuk melakukan ziarah ke makam kerabat yang telah tiada. "Sekalian nyekar juga," ujarnya.
Hingga magrib, sudah ada ribuan pemudik yang menggunakan roda dua maupun kendaraan roda empat yang melintas di Jembatan Suramadu. Namun, sayangnya, banyak ditemui pemudik roda dua yang melanggar lalu lintas seperti menerobos ke jalur roda empat. Ada juga yang mengendarai motor melebihi muatan, bahkan tidak memakai helm.
Salah satu pengendara roda dua, Baidowi, mengaku baru pertama kali melewati Jembatan Suramadu. Sehingga, ia tidak mengetahui jalur kendaraan di area Suramadu. Dia mengaku biasa pulang ke Madura dari Banyuwangi naik bus. "Baru kali ini saya naik motor melewati Jembatan Suramadu. Saya tidak tahu jalan sehingga melewati jalur roda empat," ujar Hendrik.
Sosiolog dari Universitas Airlangga Prof Bagong Suyanto mengungkapkan, tradisi toron dimaknai perantau Madura sebagai cara mereka menyambung kekeluargaan setelah kembali dari perantauan. Toron kemudian dipandang sebagai sebuah tuntutan sosial bagi para perantau Madura agar tidak lupa kampung halaman.
Ketika Idul Adha, orang Madura memaknainya sebagai waktu untuk bersedekah yang mendorong masyarakat Madura merasa harus pulang. "Momentum Idul Adha juga dimaknai orang Madura agar tidak lupa pada asal usulnya. Merefleksikan kekerabatan dan kohesi sosial masyarakat Madura," jelasnya. (mus/rek)
Editor : Jay Wijayanto