Hal tersebut disampaikan pemilik Rumah Sakit (RS) Ferina, dr Aucky Hinting. Bahkan ia memprediksi jumlah peminat bayi tabung tahun 2023 bakal meningkat dibanding tahun 2022.
"Meski demikian pernah dalam kondisi pasien yang sepi. Yakni saat pandemi covid-19, mulai tahun 2019 hingga 2021. Tapi saat ini mulai naik, peminatnya terus meningkat," ujarnya, Minggu (11/6).
Dosen Program Studi Andrologi FK Unair ini mengungkapkan tahun 1990-an, jumlah orang yang mengajukan untuk proses bayi tabung sekitar 100-an orang, kemudian mengalami peningkatan yang cukup besar dari tahun ke tahun.
Bahkan pada tahun 2022, tercatat sudah 1.200 orang yang sudah mengajukan proses bayi tabung. "Per tahun kami menangani sekitar 1000 lebih permintaan bayi tabung," jelasnya.
Aucky mengatakan, dulu untuk menangani pasien peminat bayi tabung masih ringan, tetapi lama-kelamaan penangannya semakin berat. Karena potensi kesulitan orang sekarang untuk mendapatkan keturunan semakin banyak.
"Semakin sulitnya penanganan itu otomatis mendorong perkembangan teknologi IVF kesehatan yang canggih. Itu berdampak terhadap penambahan biaya yang tidak murah. Biaya mahal dari proses sampai pembuahan itu Rp 32 juta, kalau sakit dan minta bius jadi Rp 34 juta. Belum obat suntik, orang bisa habiskan Rp 50 juta - Rp 60 juta," terangnya.
Menurutnya dulu yang meminta bayi tabung usianya 25 tahunan. Sekarang sudah 36 atau 37 tahun. "Saya yakin 2023 ini mengalami peningkatan kembali," pungkasnya. (mus) Editor : Administrator