"Yang menemukan nelayan sekitar mengapung," kata Yasin. Warga setempat berusaha melakukan evakuasi, namun terkendala peralatan.
Petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jatim dan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) kemarin berupaya untuk melakukan evakuasi bangkai paus tersebut. "Belum divakuasi karena sangat berat. Perlu peralatan khusus," tuturnya.
Divisi Patologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga drh Bilqisthi Ari Putra mengungkapkan, paus tersebut ditemukan oleh nelayan dan baru dilaporkan pada Minggu malam.
"Informasinya sampai ke kami Minggu malam (14/5). Senin (15/5) pagi baru kita berangkat. Posisi sudah mati diperkiraan tiga hari yang lalu," katanya.
Paus tersebut diprediksi sudah mati sekitar tiga hari lalu. Itu dilihat dari kembungan perut dan kulitnya. Dugaan awalnya, kata Bilqis, kematian paus karena penyakit karena tidak ada tanda-tanda kekerasan yang ditemukan. Namun, hal tersebut belum bisa dipastikan sebelum hasil autopsi resmi keluar.
Autopsi dilakukan di tepi hutan mangrove. "Senin pemeriksaan pertama. Selasa hari kedua untuk autopsi langsung di lokasi untuk memastikan penyebabnya," paparnya.
Bilqisthi menjelaskan, pemeriksaan yang dilakukan antara lain pemeriksaan luar seperti jenis kelamin, usia, penyebab kematian wajar atau tidak.
"Penyebab kematiannya dilihat kembungnya perut, pembusukan kulit dan lain-lain. Bisa saja terdampar di pantai, tidak ada yang nolong. Kami sulit mengetahui penyebab kematiannya kalau tidak ada data dari nelayan," terangnya.
Menurut dia, hasil autopsi akan keluar dalam 14 hari. Dalam pemeriksaan awal. nanti akan muncul dugaan terkait kematian paus tersebut. "Untuk penyakit atau apa penyebab kematiannya bisa keluar hasilnya setelah 14 hari," pungkasnya. (gun/rek) Editor : Administrator