Cheng Beng diambil dari bahasa Hokkian. Itu berarti bersih-bersih makam. Momen itu juga disebut hari arwah atau hari ziarah.
Direktur Surabaya Heritage Society Freddy H. Istanto mengatakan, budaya ini adalah perayaan penting selain perayaan musim semi di Tiongkok. Seluruh keturunan Tionghoa merayakan tradisi ini. Tak hanya Tiongkok, warga Surabaya juga.
"Di Tiongkok, festival ini digelar 15 hari setelah ekuinoks musim semi, biasanya antara 3 April sampai 5 April. Sampai menjadi hari libur nasional," ujarnya, Rabu (5/4).
Tradisi ini seperti berziarah. Keluarga dan kerabat dari orang yang sudah meninggal mengunjungi makam. Mereka membersihkan makam, berdoa, dan memberikan persembahan. "Tabur bunga, dupa, lilin, makanan, atau minuman tertentu," jelasnya.
Istilah lainnya adalah Hari Menyapu Makam. Bagian terpenting dari tradisi ini adalah membersihkan makam. Kegiatan ini menjadi simbol rasa hormat kepada leluhur. "Berkaitan erat dengan bakti dan pemujaan sesuai tradisi Tionghoa," ucapnya.
Setelah membersihkan makam, keluarga menggelar persembahan. Kegiatan ini dapat dilakukan individu dan secara kolektif. Freddy menjelaskan, tradisi Cheng Beng di Surabaya cukup berbeda. Keluarga mempersembahkan nasi, lauk pauk, buah, dan minuman. Selain itu, terdapat persembahan berupa kue-kue. "Ada prosesi pembakaran perlengkapan tertentu," katanya.
Selain membakar dupa, upacara Cheng Beng ini pun membakar beberapa kebutuhan. Misalnya adalah rumah mainan, kimcua, uang kertas neraka, bahkan mobil mainan berbahan kertas. Ritual ini menjadi rangkaian sembahyang arwah leluhur. (hil/nur) Editor : Administrator