FAKTA penurunan tiras koran yang terus terjadi setiap hari tidak bisa dinafikan. Tidak sedikit media yang akhirnya mengucapkan "sayonara" setelah melakukan berbagai efisiensi, seperti mengurangi jumlah halaman koran hingga pengurangan karyawan. Tidak sendiri, koran bersama televisi dan radio harus menghadapi persaingan berat dengan hadirnya Internet.
Di edisi terakhir, The Washington Post bahkan menuliskan kekesalan atas kehadiran smartphone yang dituduh sebagai biang keladi ambruknya industri media cetak. "Hope you enjoy your stinkin' phones" tulis koran milik Jeff Bezos tersebut. Era disrupsi tidak hanya mengubah wajah media dan industri yang mendukungnya, tetapi juga mengubah cara kita berkomunikasi, sikap dan perilaku kita.
Peningkatan penggunaan platform media digital pun semakin melonjak di tengah pandemi Covid-19, dimana aktivitas ekonomi dan bisnis semakin dibatasi. Publik mengandalkan dan mempercayakan media sosial dalam berbagai kegiatan seperti informasi, komunikasi, pekerjaan, hingga pendidikan.
Alhasil, sedikit dari kita yang menyadari bahwa media sosial pun telah "dibegal" oleh para penyebar hoax dan ujaran kebencian yang membuat kegaduhan di tengah-tengah masyarakat. Parahnya, kabar bohong tersebut mengancam persatuan dan kesatuan bangsa karena memecah belah anak bangsa.
Kini, dengan adanya media sosial (medsos) setiap orang bisa menjadi pewarta. Setiap orang bisa memproduksi, menyunting, mereproduksi, dan menyebarkan informasi. Sayangnya tidak semua orang memahami betul Kode Etik Jurnalistik. Kondisi ini diperparah dengan tingkat literasi digital masyarakat kita yang kurang sehingga dengan mudahnya percaya dengan kabar yang tidak tahu asal usulnya tanpa melakukan cek dan ricek.
Lantas apa yang bisa dilakukan media di tengah era disrupsi seperti sekarang ini ? Tidak lain dan tidak bukan, selain terus berevolusi seiring perkembangan teknologi, media juga harus bekerja "membanjiri" kanal dan platform dengan berita-berita baik, mencerdaskan, dan mempererat persatuan dan kesatuan sebagai bangsa.
Jangan sampai media justru mengikuti arus dengan menghadirkan konten-konten yang sekadar mengejar viral, membangun ketakutan dan pesimisme. Media harus menghindari tren informasi yang mengejar klik (clickbait) dan views tanpa memperdulikan isi dan kualitas informasi yang diberikan.
Media harus berkomitmen penuh kepada khittah sebagai salah satu pilar utama penyangga demokrasi. Bukan hanya semata-mata menjadi institusi penyedia informasi bagi publik, tetapi juga merepresentasikan fungsi kontrol, fungsi kritik, dan penyedia ruang bagi partisipasi publik. Pemenuhan hak asasi rakyat untuk memperoleh informasi, dan kemerdekaan pers untuk menyampaikan informasi, berbanding lurus dengan manifestasi prinsip kedaulatan rakyat.
Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa kita semua harus mengapresiasi media-media yang sampai saat ini tetap konsisten menegakkan esensi pers, baik sebagai institusi publik maupun institusi sosial, yang mempunyai peran yang strategis dan signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tidak hanya menyuarakan narasi kebangsaan, namun juga terus berperang melawan kabar bohong dan mis informasi dengan terus menghasilkan karya-karya jurnalistik berkualitas lebih cepat dan tetap akurat dan tidak terjebak pada sikap pragmatis yang menggerus integritas pers.
Akhirnya, atas nama masyarakat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, saya menyampaikan selamat Hari Pers Nasional kepada seluruh insan pers Indonesia di mana pun berada. Terimakasih kepada semua insan pers yang telah bekerja keras tanpa lelah menyampaikan informasi, meningkatkan literasi, membangun optimisme, dan membangun harapan, sehingga Jawa Timur bisa kembali bangkit dari keterpurukan akibat Covid-19. Maturnuwun. (***)
(*) Gubernur Jawa Timur Editor : Administrator